2/24/16
(gambar diambil dari sini)
Seminar
ini adalah kali pertama saya hadir dalam rangkaian seminar bu Elly Risman
lainnya. Sebelum hadir langsung di
seminarnya, saya memang tertarik dengan bahasannya namun karena waktu itu
kondisi masih belum bisa meninggalkan anak, jadi saya hanya baca review orang yang hadir dari internet
saja. Tertarik banget dengan seminar-seminar Bu Elly karena tema dan isi
seminarnya luas, langsung dari pakarnya dan jleb banget. Akhirnya,
setelah anak kedua lulus ASI di umur 2 tahun, baru saya mencoba ikut hadir di
seminarnya karena rasanya lebih tenang meninggalkan anak bersama ayahnya untuk
belajar selama 4 jam. Berangkatlah saya diantar suami dan anak-anak, dan
sementara saya belajar, suami lah yang mengasuh anak-anak. Alhamdulillah suami
pun mendukung saya untuk menimba ilmu lagi. Simak resume seminarnya walau
mungkin ada sebagian yang lupa-lupa ingat karena sudah lebih dari setahun yang
lalu hehehe… dan sengaja dibagi menjadi beberapa bagian supaya tidak terlalu
panjang.
Mengapa
kita perlu membantu anak menghadapi persaingan?
1. Anak kita akan
memasuki dunia global dimana persaingan semakin ketat
2. Bagaimana
supaya bisa bersaing tapi juga bersinergi
3. Anak harus mampu mengenali dan menerima diri dan orang lain. Generasi
anak kita adalah generasi Z yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.
Generasi di era digital yang salah satunya adalah mereka akan menghadapi bully yang tidak hanya sekedar bully biasa tetapi adalah bullycide (bully until suicide) yaitu bully
sampai mereka merasa ingin bunuh diri.
4. Menyerahkan
sebagian “dirinya” dengan happy
5. Sikap terhadap
persaingan yang sehat dan produktif
6. Berlomba
berbuat kebaikan dan mencari ridha Allah
Sumber
persaingan dan stres:
1. Lupa anak milik siapa?
2. Tidak
mengenali diri sendiri dan anak:
- Tidak tahu tahapan
perkembangannya
- Tidak tahu cara otak bekerja
3. Tidak
merumuskan dan menyepakati tujuan pengasuhan
4. Persaingan dan
masalah dalam keluarga
5. Persaingan dan
masalah diluar keluarga
6. Memilih
sekolah: keinginan/gengsi ortu VS bakat dan kemampuan anak
7. Dampak negatif
teknologi dan media
1. Lupa bahwa anak milik siapa
- Anak adalah
anugrah & pinjaman
- Anak adalah
fitnah (QS 64:15)
“Sungguh hartamu dan anak-anakmu adalah
cobaan bagimu
- Anak jangan
menyebabkan lupa kepada Allah (63:9)
- Anak bisa
menjadi musuhmu
- Doa ingin anak
sholeh (3:38)(25:74)(46:15)
Bagaimanapun
anak adalah titipan, bagaimana caranya supaya tidak bikin perkara di masa tua.
2. Tidak mengenali diri sendiri dan anak:
a. Tidak mengenali diri sendiri.
Yuk,
kenali diri sendiri! Bu Elly memberi simulasi bagaimana kita sangat tidak
mengenali diri sendiri yaitu dengan games tebak “apa bakat anda?”. Pikirkan apa
bakat kita dan pikirkan 2 bakat anak kita. Setelah itu kita cari pasangan di
sebelah dan mengingat di dalam hati bakat kita dan 2 bakat anak kita. Tentukan
siapa yang mulai duluan menyebutkan bakatnya dan bakat anaknya dengan cara
menepuk bahu pasangan dan tanya, apa bakat anda? Suasana jadi riuh karena sibuk
memberi jawaban antar pasangan. Lalu ketika ditanya beberapa orang, apa bakat
kita yang disebutkan pasangan sudah benar atau belum, dan ternyata masih ada
jawaban yang salah. Kenapa? Karena kita malah sibuk mendengar dan memperhatikan
bakat orang lain, tidak melihat ke diri sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya
kita fokus untuk mengenali diri sendiri dulu.
Masing-masing
kita unik (QS 3:6). Anak kita tercipta dari ratusan ribu sperma dan ratusan
ribu sel telur yang masing-masing membawa gen yang berbeda. Oleh karena itu,
masing-masing anak kita unik dan perlu perlakuan khusus. Tips nya adalah
sediakan masing-masing satu “hari anak” untuk setiap anak.
Kebiasaan yang merupakan pengalaman
ortu atas:
- Masa lalu yang ditekankan ortu
yaitu akademik dan agama
- Perasaan saat itu yaitu sebal,
menyenangkan, terbebani, biasa saja, bahagia, masuk telinga kanan keluar
telinga kiri, stres belajar
- Parenting diturun temurunkan (wiring), jadi cara orang tua mengasuh
kita akan berdampak pada pengasuhan diri kita ke anak kita. Begitu juga dengan
anak kita dan seterusnya. Hal ini disebut myelinisasi
yaitu kebiasaan dari kecil mempengaruhi cara pengasuhan berikutnya ke anak.
Oleh karena itu, sebaiknya putuskan wiring
cara pengasuhan ortu kita dulu apabila ada yang tidak pas.
b. Tak kenal anak karena kita minim
pengetahuan tahapan perkembangan anak dan cara otak bekerja. Tahapan
perkembangan anak:
- Bayi
- Batita
- Balita
- Usia SD yaitu Kelas rendah (pre baligh) & Kelas tinggi (Pra remaja)
- Remaja
- Dewasa muda
- Dewasa
Anak harus ada internal control
Cara otak bekerja:
- Synaps-synaps/saraf otak bersambungan jika gizi baik dan rangsangan
tepat
- Koneksi terjadi 1-2 Trilyun di umur 2,5 tahun dan pusat perasaan di
otak lah yang matang duluan.
- Pusat-pusat di otak sempurna berhubungan di umur 7 tahun, jadi jangan
bebani anak terlalu berat dengan les dan ekskul atau masukkan anak ke sekolah
sesuai dengan usia sekolah dan jangan terlalu cepat.
- Anak perlu eksplorasi dan sinar matahari (3 jam/hari) minimal 30 menit
- 3 bagian otak yang penting dan perhatikan cara kerjanya:
a. Kortek Serebri (Cerebral cortex)
b. Sistem Limbik (Limbic sysytem)
atau pusat perasaan/emosi, motivasi. Otak yang pertama matang adalah
perasaan/empati. Sistem limbik berhubugan dengan memori dan mengontrol sistem
syaraf simpatik seperti jantung, paru-paru, usus dan organ seks.
c. Batang otak (Brain stem):
tidak bisa menerima bentakan terlalu banyak, hindari bentakan dan marah karena
tidak sesuai dengan kerja otak.
Jadi faktanya bagaimana
otak bekerja adalah terbentuk dari cara kita berkomunikasi dengan anak.
Potensi anak yang harus dikembangkan:
- Potensi fisik dan kesehatan
- Potensi mental/ kecerdasan
- Potensi emosi
- Potensi Sosial
- Potensi spiritual: keimanan, ibadah dan akhlak
- Potensi seksual
- Potensi keterampilan/lifeskill
Sebagai orangtua kita harus ganti gigi dengan
berkunjunglah ke tempat dan waktu yang penuh “magic” itu (masuk ke dalam dunia anak-anak) misalnya orangtua harus
terus belajar supaya tidak gaptek karena anak-anak akan lebih menghormati ke
orangtua uang mengerti dunia mereka, ditanya gadget atau game ngerti, jadi ortu
harus bisa menyesuaikan dunianya saat berhadapan dengan anak.
Bila anak hidup dalam irama dan kecepatan orang
dewasa, maka mereka akan bergegas dalam kehidupan kekanak-kanakannya dan bisa
menyebabkan stres.
3. Tidak merumuskan dan menyepakati tujuan
pengasuhan
Tujuan pengasuhan:
- Hamba Allah yang takwa, berkahlak mulia dan ibadah sempurna
- Calon istri/suami
- Calon ayah/ibu
- Profesional/entrepreneur
- Pendidik keluiarga
- Penanggung jawab keluarga
- Pendakwah/berbagi ilmu
Perempuan mungkin bisa
berhenti sampai di point (d) profesional/entrepreneur karena selanjutnya akan
ada suami yang mengajarkan tetapi untuk laki-laki harus sampai point terakhir
(g) pendakhwah karena mereka akan menjadi kepala keluarga. Otak anak perempuan
dan anak laki berbeda sehingga harus berbeda cara pengasuhan. Tujuan pengasuhan
salah satunya adalah growing straight
form the start.
Bersambung ke Part II
#ODOPfor99Days
#Day15


0 comments:
Post a Comment