Showing posts with label Book. Show all posts
Showing posts with label Book. Show all posts
4/19/16
“Those
who don’t learn from history are doomed to repeat it.” (George Santayana)
“Dunia ini bagaikan samudra tempat banyak
ciptaaan-ciptaanNya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut
nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang
menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai
pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai mahkoda perjalananmu, dan kesabaran
sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.” (Ali bin Abi Thalib ra)
4/13/16
Book Review: Khadijah – Ketika Rahasia Mim Terungkap
(foto Sibel Eraslan diambil dari sini)
“Allah
tidak pernah memberikanku wanita yang lebih mulia daripada Khadijah.
Di
saat manusia tidak percaya, dia sendiri yang percaya.
Ketika
semua orang mendustakan diriku, dia sendiri yang menerimaku.
Ketika
manusia berlarian dariku, ia melindungiku, baik ketika ada maupun tiada
Dan
Allah mengaruniaiku putra-putri bukan dari yang lain, melainkan darinya.”
Khadijah
adalah wanita yang berasal dari garis keturunan Qusay bin Kilab, Luay bin
Galib, sebuah keluarga yang sangat terkenal di Mekkah dengan jiwa ksatria dan dermawan.
Khadijah adalah sosok yang cekatan, mewarisi jiwa kelembutan, kepandaian
berkuda, berhitung dan aritmatika, bertahan dalam terik dan badai padang pasir,
sabar dan mahir berpuisi. Suatu ketika Khadijah ingin mengamanahkan usaha
dagangnya kepada orang yang bisa dipercaya dan disarankan untuk meminta bantuan
kepada kerabat teman dekat ayahnya Abu Thalib dan kemenakannya. Pertemuan
pertamanya yaitu saat Muhammad datang ke rumah Khuwaylid yang bermaksud untuk
membantu usaha dagangnya.
Saat melepas rombongan dagangnya
yang akan berangkat ke negeri Syam, Khadijah menyapu pandangannya dan ia
mendapati awan bergerak memayungi seorang pemuda dan seolah-olah dua malaikat
selalu mengiringi jalannya. Saat itulah hatinya berdebar-debar dalam seketika. Apa
yang berejolak di dalam hatinya hanya satu, rahasia huruf mim, Muhammad. Sekembalinya
rombongan dagang dari negeri Syam yang menuai sukses besar, Muhammad memacu
kudanya menuju kediaman Khadijah binti Khuwaylid. Pandangan mata Khadijah menangkap
kemilau cahaya yang seolah-olah terpancar dari wajah sang penunggang kuda
dengan awan yang selalu mengikuti untuk memayungi kemuliaannya. Seorang penunggang kuda yang sejak lama telah
menjadi mahkota belahan jiwanya, segera ksatria itu turun dan memberi salam
kepada semua orang yang ada dan menambatkan kudanya. Khadijah hanya memberi isyarat sebagai bentuk
terima kasih yang setinggi-tingginya sebagai ungkapan keinginannya untuk
membalas semua prestasinya dengan kebaikan yang sebesar-besarnya.
Pernikahan pun dilaksanakan
antara Muhammad dan Khadijah dengan mahar 400 dinar, 12 ukiyah dan 1 nashiyah
emas serta 20 unta muda. Muhammad pun menjadi ayah-ayah dari anak-anak yang lahir
dan tumbuh besar di bawah tangan Khadijah dan akan menorehkan sejarah di
lembaran-lembaran halaman emas sebagai anak-anak yang berharga. Saat wahyu
pertama turun, Khadijah dengan penuh kasih sayang membantu Al Amin yang cemas
untuk berbaring di tempat tidurnya dan menenangkannya. Khadijah tidak
mengetahui bahwa makhluk yang mendatangi Al Amin adalah malaikat Jibril, hingga
suatu hari dahi Al Amin penuh dengan keringat dan bergetar.
“Datang..
Malaikat datang” Khadijah kemudian mendekati suaminya dan duduk di sisi
kanannya.
“Engkau masih
melihatnya” Khadijah kemudian berdiri dan duduk di samping kiri suaminya.
“Ya, aku masih
meihatnya” Khadijah lalu pergi ke belakang tubuh sang suami dan memeluknya dan
penutup kepala Khadijah terbuka ke samping dan turun ke arah pundaknya.
“Engkau masih
melihatnya?”
“Tidak. Setelah
engkau pergi ke belakangku, di pergi”
Khadijah sadar
bahwa makhluk yang datang itu bukan jin atau syetan tetapi pasti malaikat
Jibril karena ketika Khadijah memeluk suaminya dan penutup kepalanya terbuka,
sosok itu menjauh dari mereka, jika yang datang jin atau syetan, mereka tidak
akan pergi dan tidak bosan dengan hal kemahraman.
Khadijah
adalah orang pertama yang menerima kalimat syahadat ketika suaminya telah
menjadi Rasulullah. Dialah yang membawakan keranjang ke Gua Hira, meskipun
mendaki di bawah terik mentari, senyum selalu terpancar dari wajahnya. “Selamat
datang Khadijah, Allah dan Jibril memberikan salam untukmu.” Khadijah adalah
teman hidup perjalanan suaminya, tak pernah melepaskan dan putus asa. Meskipun
hidupnya selalu dipenuhi dengan ancaman, Khadijah tak pernah sekalipun
melewatkan pergi ke Kakbah dan shalat disana bersama sang suami. Bahkan, meski
ancaman kematian datang mendera, ia dengan gigih dan berani tidak beranjak
selangkah pun dari sisi suaminya.
REVIEW
Selama
ini sulit sekali mencari novel tentang empat wanita ahli surga yang paling
mulia, salah satunya adalah Bunda Khadijah. Baru novel ini yang menceritakannya
dengan penuh perasaan sehingga membacanya seolah ikut terhanyut kembali ke
jaman 1400 tahun yang lalu. Gaya bahasanya yang puitis dan beberapa ditulis
dalam bentuk syair, kadang membuat saya harus berpikir maksud dan artinya. Tetapi
secara keseluruhan novel ini merupakan satu dari karya sastra yang sangat
indah.
Buku
ini juga menceritakan Rasulullah SAW dari sisi Khadijah dan walaupun tidak
banyak diceritakan, namun berhasil membuat kita menangkap sosoknya yang sangat
mencintai dan menghormati Khadijah. Sungguh romantis membayangkan Rasulullah
dan Khadijah mendaki Gunung Hira bersama dan saling menggenggam tangan. Lalu,
betapa pengorbanan dan ketulusan Khadijah dalam membantu dakwah suaminya
membuat saya kagum dan menyadari bahwa sungguh pantaslah beliau sangat mencintai
dan mengasihi Bunda Khadijah, kekasihnya kekasih Allah.
Salah
satu hal yang membuat saya terganggu adalah 4-5 quote yang ada di tiap bab yang
ditulis dengan kotak tersendiri padahal isinya adalah pengulangan kata dari bab
tersebut. Selain memenuhi halaman dan terkesan mubazir karena kata-katanya
hanya berupa pengulangan. Mungkin memang lay
out tersebut sengaja diciptakan untuk membuat perbedaan dengan novel lainya
atau menegaskan bagian terpenting dari bab tersebut, mungkin saja. Tapi hal ini
tidak berpengaruh pada keseluruhan isi cerita jadi tidak masalah. Novel ini
baru pertama kali saya baca, namun sudah membuat saya penasaran dengan serial 4
wanita penghuni surga lainnya. Menurut saya, highly recommended banget untuk saya yang minim informasi tentang
wanita penghuni surga tersebut. Saya ingin bisa menceritakannya kembali kepada
anak-anak supaya yang menjadi panutan bagi anak-anak saya adalah sosok wanita hebat
seperti beliau.
Judul: Khadijah: Ketika Rahasia Mim
Terungkap
Penulis: Sibel Eraslan
Penerbit: Kaysa Media (Anggota Grup
Puspa Swara)
Hal: 388 Halaman
(gambar diambil dari sini)
#ODOPfor99Days
#Day22
1/26/16
Book Review: Bulan Terbelah di Langit Amerika
SINOPSIS
Buku
ini adalah buku kedua Hanum Rais setelah 99 cahaya di Langit Eropa. Kali ini
kisah perjalanan Hanum dan Rangga berlanjut di Amerika. Hanum dan Rangga adalah
sepasang suami istri yang menetap sementara di Wina, dimana Rangga sedang
menyelesaikan beasiswa studi S3 di Austria dan Hanum bekerja di surat kabar
Austria, Heute ist Wunderbar. Atasan
Hanum bernama Gertrud robinson memberikannya tugas untuk menulis artikel dengan
topik “Would the world be better without
Islam?”. Secara kebetulan, Rangga yang merupakan asisten dosen juga harus
berangkat ke Amerika untuk mengadakan konferensi dan menghadiri pidato
Phillipus Brown, salah satu tamu kehormatan konferensi tersebut.
Petualangan
di Amerika benar-benar menguji mereka, berputar-putar di New York karena tidak
menemukan narasumber yang akan diliput, hilangnya Hanum dan pertemuannya dengan
Julia Collins seorang kurator museum. Sejak kejadian runtuhnya menara kembar
WTC di amerika, Islamophobia sangat
kental terjadi di negara tersebut, dimana perjuangan minoritas penduduknya yang
memeluk agama Islam berada dibawah tekanan masyarakatnya yang begitu menghujat
Islam. Begitu juga dengan nasib Julia Collins yang mencoba berdamai dengan
keadaan di sekelilingnya.
Buku
ini juga menceritakan pengalaman mereka bertandang ke tempat-tempat yang
ternyata memiliki kaitan dengan fakta dan sejarah Islam di Amerika. Tahukah
kita sebagai muslim di Indonesia bahwa Amerika sangat menghargai Nabi Muhammad
dan Alquran? Bahwa presiden Amerika terdahulu, Thomas Jefferson yang fasih
berbahasa Arab dan memiliki Alquran menuliskan pemikiran-pemikiran yang sejalan
dengan nilai Al-Quran, walaupun kita tahu dia bukan muslim. Lalu Colombus yang
dalam jurnal pelayarannya, ketika mendekati semenanjung timur Kuba, ada kubah
masjid yang indah seperti di negerinya Spanyol dan ada pula yang mengatakan
nama Kuba diambil dari bahasa Arab, Al-Qubbah.
Kemudian
Harvard, salah satu pintu gerbang fakultas hukumnya terdapat ukiran inkripsi
ayat Alquran, surat An Nisa ayat 135 tentang kehebatan ajaran keadilan. Lalu
Nabi Muhammad yang dibuatkan patung di relief pada dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung sebagai patron keadilan di
Amerika Serikat. Sebagai pemeluk agama Islam, sangat dilarang menggambarkan
nabi dengan bentuk visual, namun sebagaimana pengukirnya yang bukan muslim dan
tidak mengerti hal tersebut, mengapa dia mensejajarkan Nabi Muhammad denga
tokoh besar sejarah dunia dengan judul “The
Great Law Givers on Earth”. Mengapa terdapat nama kota Mecca dan Madina di
Amerika Serikat? Dan beberapa fakta-fakta lainnya yang mengaitkan mukjizat nabi
Muhammad dengan penelitian terbaru bidang astronomi yang sungguh mencengangkan.
Buku ini layak menjadi national best
seller dengan fakta-fakta sejarahnya dan kisah fiksinya yang membuat kita
terhanyut didalamnya.
REVIEW (SPOILER
ALERT!!!)
Saya
salut dengan Hanum Rais yang walaupun dia seorang dokter gigi, namun cara
penulisan, pendeskripsian tempat, alur cerita dan penokohan yang tepat membuat
cerita ini semakin membuat saya terbius masuk kedalamnya. Berbalut kisah fiksi
dan fakta sejarah keislaman dari negara yang mayoritas penduduknya bukan Islam,
sungguh menyeret saya untuk selalu membuka lembar-demi lembar karena rasa penasaran
dan kejutan apalagi yang ditinggalkan oleh warisan budaya dinasti Islam
terdahulu. Lalu korban-korban dalam peristiwa 9/11 yang selama ini hanya
diberitakan secara sepihak dan timpang, namun Hanum bisa menceritakanya dan
melakukan penjabaran peristiwa tersebut dari dua sisi.
Untuk
menelisik lebih lanjut, ada beberapa perbedaan dari novel sebelumnya yang
menurut saya kurang terasa chemistry-nya
atau mungkin hanya pendapat saya pribadi saja ya hehe... Novel kedua ini dibuat
dengan 2 sudut pandang yaitu Hanum dan Rangga sehingga seolah-olah melukiskan
suasana hati mereka berdua. Terus terang saya agak sedikit terganggu karena Sosok
Hanum dan Rangga diceritakan bergantian setiap bab sehingga sedikit membuat
cerita ini kurang menggigit karena penokohan Rangga terasa kurang kuat. Kemudian
cerita di buku kali ini diselipkan fiksi dimana cerita Hanum yang hilang di
tengah kerusuhan demonstrasi di tengah-tengah kota New York dan Azima Husein
yang ending-nya bisa bertemu dengan
Philippus Brown membuat cerita ini jadi berkesan kurang realistis.
Fakta-fakta
sejarah Islam dalam buku ini masih debatable
artinya masih jadi perdebatan sampai saat ini kebenarannya, namun Hanum sukses
mengangkatnya dan membuat saya terbengong-bengong membaca sambil berkata,
“Beneran nih?” dan langsung googling.
Hanum dengan piawainya memasukkan unsur kisah fiksi dan fakta sejarah menjadi
buku yang membuat wawasan kita terbuka tentang sejarah Islam di Amerika. Namun,
sejujurnya saya masih lebih suka karyanya yang pertama, “99 Cahaya di langit
Eropa”. Very recommended book, dear!
Judul: Bulan Terbelah di Langit
Amerika
Penulis: Hanum Salsabilla Rais dan
Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Hal: 344 Halaman
(gambar diambil dari sini)
#ODOPfor99Days
#Day14
1/21/16
Book Review: Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra
Sebenarnya
review ini adalah review pertama di grup one week one book. Tapi saya perluas
review tersebut karena review sebelumnya lewat hape yang agak susah ngetiknya.
(gambar diambil dari sini)
Metode sentra dikembangkan oleh
Pamela Phelps di Florida, AS sejak tahun 1970 dan diadopsi oleh drg. Wismiarti
Tamin, pendiri sekolah Al-Falah di Jakarta Timur. Kini metode sentra sudah
banyak dipakai di sekolah-sekolah di Indonesia, salah satunya adalah penulis
buku ini yang mendirikan sekolah gratis untuk dhuafa yang bernama sekolah
Batutis Al-Ilmi Bekasi. Metode ini tidak hanya diterapkan di sekolah,
bisa juga diterapkan di rumah. Dalam metode sentra, kurikulum tidak diberikan secara
klasikal tapi individual disesuaikan tahapan perkembangan masing-masing anak
dan dibatasi satu kelas hanya 12 orang anak. Selama proses pembelajaran, guru
dilarang melakukan 3 M: tidak boleh melarang, menyuruh, marah/menghukum. Metode
ini membangun kecerdasan jamak secara bersamaan dan berimbang:
1.
Kecerdasan logika-matematika
2.
Kecerdasan bahasa
3.
Kecerdasan tubuh (kinestetik)
4.
Kecerdasan ruang (spasial)
5.
Kecerdasan kemandirian (intrapersonal)
6.
Kecerdasan kepedulian sosial (interpersonal)
7.
Kecerdasan musik
8.
Kecerdasan natural
(gambar diambil dari sini)
Ada
tujuh sentra yang disediakan agar anak bisa bermain gembira dan mendapatkan
banyak pilihan pekerjaan:
1. Sentra persiapan: (membangun kemampuan keaksaraan)
2. Sentra Balok (merangsang kemampuan konstruksi, prediksi, presisi,
akurasi, geometri, matematika)
3. Sentra seni (membangun kreatifitas, sensorimotor, kerjasama)
4. Sentra bahan alam (membangun sensorimotor, fisika sederhana, pemahaman
akan batasan dan sebab-akibat)
5. Sentra main peran besar
6. Sentra main peran kecil (membangun imajinasi, daya hidup, adaptasi,
kemandirian, kebahasaan, kepemimpinan)
7. Sentra Imtak (iman dan takwa)
Metode
sentra terbukti sangat efektif digunakan untuk membangun karakter dan
kecerdasan anak sejak bayi hingga SD kelas tiga. Itulah fase awal dalam
kehidupan anak manusia yang oleh para ahli pendidikan disebut dengan “usia
emas” Itulah suatu rangkaian waktu yang juga disebut sebagai jendela kesempatan
yang akan tertutup sesudah waktu itu berlalu. Itulah masa yang sangat
menentukan kualitas dan masa depan anak: sukses atau gagal, jadi ahli surga
atau neraka.
Buku ini lengkap berisi tentang
bagaimana penerapan metode sentra baik di rumah atau disekolah, mulai dari
tahap-tahap perkembangan anak yang berasal dari teori Piaget dan Erikson,
bagaimana membangun kecerdasan jamak anak, bagaimana membuat sentra,
menyediakan bahan-bahannya dan contoh penerapannya.
“Lepaskanlah
anak-anak panah itu dari busurmu, biarkan mereka melesat ke arah kiblat. Maka,
selesailah tugasmu. Tidak lebih, tidak kurang. Jika lebih mereka akan jadi
sumber fitnah atau berhala. Jika kurang, anak bisa jadi bencana, bagi keluarga
dan masyarakat. Maka, jangan ambil apa yang bukan bagianmu, yang sudah jadi
ketetapan Tuhan. Maka, jangan tinggalkan apa yang menjadi tugasmu; beranak
pinak, melanjutkan fitrah khalifah dan mensyukuri nikmat Allah.”
Judul: Pendidikan Karakter dengan
Metode Sentra
Penulis: Yudhistira & Siska Y.
Massardi
Penerbit: Media Pustaka Sentra,
2012
Hal: 354 halaman
(gambar diambil dari sini)
#ODOPfor99Days
#Day13
1/20/16
One Week One Book
Tahun
ini banyak sekali list buku yang
ingin dibaca, mulai dari novel, buku parenting, buku motivasi dan buku agama.
Sebenarnya pengen juga baca buku ulang yang sudah lama karena ada beberapa buku
yang layak untuk dibaca ulang, tapi nggak mau muluk-muluk dulu deh, selesain
dulu list buku yang baru dan belum
dibaca, itu juga belum tentu selesai dibaca dalam setahun. Belum lagi acara
yang ditunggu-tunggu, islamic bookfair
bakal segera hadir di bulan Februari. Semoga saya nggak kalap tahun ini hehe…
Namanya
juga emak-emak ada saja kendalanya mau baca, mulai dari nggak sempet karena
waktu yang kurang, ketiduran, masih banyak kerjaan lain yang numpuk, nemenin
anak main, terus kapan dong bacanya? Ini sih sebenarnya alasan sendiri yang
dibuat-buat aja, kalau kita disiplin menyisihkan waktu minimal 1 jam aja setiap
hari, Insya Allah itu buku kelar seminggu hehe... tapi karena berbagai macam
kegiatan nggak jelas yang malah lebih banyak durasinya dibanding produktifnya,
ujung-ujungnya satu buku bisa sampai seminggu lebih bahkan sebulan. Padahal di
tahun 2016 ini salah satu resolusi saya adalah one week one book, satu minggu satu buku plus resume. Ide ini
adalah gagasan iseng teman satu komunitas yang juga suka baca buku. Tapi
ternyata konsistensi pelaksanaannya merupakan hal yang masih jadi perjuangan
banget buat saya. Bulan Januari 2016 ini, saya masih berkutat dengan novel
Khadijah nya Sibel Eraslan.
Sejak
bulan November sudah tercatat 6 buku yang saya review di grup one week one book
tapii… itu semua novel karena tujuan saya ingin menamatkan semua novel-novel di
tahun 2015, untuk tahun 2016 mau mulai membaca buku-buku parenting lagi karena
selama tahun 2015 saya jarang banget baca buku agama, motivasi dan parenting. Di
tahun 2015, saya menimba ilmu dengan banyak ikut seminar dan mengumpulkan bahan
home education sehingga jarang banget
baca dalam bentuk buku, malah kebanyakan baca artikel di internet. Seringnya
juga nemenin anak baca buku karena anak saya sekali makan buku bisa 5 buku
dalam sehari bahkan lebih, tapi masih dibacain hehe…
Kemarin-kemarin
kan saya udah janji review seminar,
sekarang mau mulai review buku juga.
Walau nunggu waktu yang tepat, tapi niat saya untuk berbagi pasti ada hanya
saja waktu menyesuaikan hehe… Doakan saja mudah-mudahan saya sehat terus dan
anak-anak juga, karena dengan begitu saya jadi lebih mudah menulis jika kondisi
saya dan keluarga sehat jiwa dan raga.
Aamiin…!!!

(gambar diambil dari sini)
#ODOPfor99Days
#Day12
















