Awal
tahun banyak orang berlibur ke tempat-tempat seru, kita malah leyeh-leyeh di
rumah sambil jalan-jalan ke supermarket bahan bangunan. Ada agenda lain yang
bikin kita muter-muter dari satu toko ke toko lain buat survey harga bahan
bangunan yaitu agenda renovasi rumah yang sedang direncanakan oleh saya dan
suami. Mungkin sudah pada tau kalau biaya renovasi enggak bakal habis sedikit,
minimal harus melebihkan sekitar 20% dari total RAB karena yang namanya
membangun ada saja printilan yang tadinya enggak direncanakan kemudian harus
ditambahkan, misalnya perhitungan tukang yang kurang akurat atau keinginan tuan
rumah yang menambah desain awal. Jadi, awal tahun ini kita tabung uangnya
sambil survey bahan bangunan dan perabotannya dengan maksud ingin
memperhitungkan lebih detail sehingga sudah tau perkiraan dana
yang akan kita gunakan supaya enggak membengkak seperti pada saat renovasi
sebelumnya.
Ketika
survey, ternyata harganya sudah jauh naik dari saat kita renovasi pada tahun 2012,
yaiyalah harga bahan bangunan emang selalu naik dari tahun. Saya jadi
berasa dejavu dan ingat serunya perjuangan kita dari 0 demi mendapatkan sebuah
rumah yang sangat jauh dari perkiraan kami karena waktu itu status kami baru
akan menikah. Allah memang Maha pengabul doa, siapa yang bersungguh-sungguh,
maka Allah akan tunjukkan jalan-Nya. Pengen nostalgia sebentar supaya setiap
membaca kisah ini jadi pengingat kami untuk selalu menyukuri nikmat dari-Nya
dan mengambil hikmah dari apa yang telah kami jalani.
Menemukan Rumah Idaman
Berawal
dari tahun 2009, saat itu saya dikenalkan dengan anak dari murid mengaji ayah
saya. Awalnya hanya melalui foto kemudian mereka datang bersama dengan
keluarganya ke rumah dan saya pun dikenalkan melalui ibunya dan ibu saya yang
kebetulan teman mengaji. Selang 5 bulan kemudian, dia melamar saya (setelah
melalui istikharah panjang hahahah...) dan merencanakan pernikahan kami 5 bulan
kemudian karena sulit sekali mencari gedung pernikahan yang kosong untuk kami
gunakan. Pada jeda waktu 5 bulan tersebut sambil mempersiapkan acara untuk
menikah, kami survey rumah, karena kita sependapat bahwa kalau sudah
menikah ya akan lebih enak tinggal di rumah sendiri.
Kami
mulai mendatangi pameran rumah dan ambil brosur di Mall -Mall, kadang
pulang kerja pun suka liat spanduk-spanduk pinggir jalan dan mencatat
lokasinya, pikiran kami harga rumah mahal sekali, apakah kami sanggup
membelinya. Kita juga enggak berkhayal ketinggian dengan harga rumah yang
diluar jangkauan kami, lihat uang di rekening yang menipis karena budget terbagi
antara mau nikah dan pengen punya rumah. Sampai suatu hari kita kepanasan
keliling-keliling naik motor mencari perumahan yang cocok dengan budget,
kita cuma mengikuti jalan dan enggak tau sudah sampai dimana dan nyasar ke
suatu tempat di pelosok. Kita sampai di suatu perumahan yang menurut kita cocok
di hati dan langsung suka walaupun lokasinya berada di pinggir jalan.
Karena
penasaran, kita datang ke marketing
office untuk bertanya lebih jauh dan meminta brosur. Ketika sampai di
rumah, kita membandingkan harga, luas tanah, luas bangunan, spesifikasi
bangunan, lokasi, dan model rumah. Saya dan calon suami sepakat menentukan rumah
pilihan pertama dengan tipe 60/128 dengan denah rumah 2 kamar utama + 1 kamar
pembantu, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga dan dapur, carport dan
taman di depan serta masih ada sisa lahan di belakang yang cukup besar dan
bisa dirombak untuk dijadikan ruangan baru. Akhirnya dengan berbekal tabungan
berdua, tekad yang bulat dan modal nekat, kita putuskan untuk ambil rumah tepat
sebulan setelah lamaran dan 4 bulan sebelum tanggal pernikahan.
Alhamdulillah
semua berjalan lancar baik dari pembayaran cicilan DP, tanda tangan dengan
notaris dan segala tetek bengek proses akad kredit rumah dengan bank. Setelah
proses akad kredit selesai, mulailah kami menyicil untuk KPR dan menunggu 4
bulan selama rumah dibangun karena masih berupa tanah kosong. Akhirnya
pada bulan Maret 2010, rumah kita selesai dibangun bertepatan dengan bulan
pernikahan kami, tepatnya 4 hari setelah pernikahan, kita serah terima kunci
rumah dengan developer dan ini adalah hadiah pernikahan terindah bagi
kami berdua walaupun rumahnya masih dicicil hehehehe.
Menempati Rumah Baru
Setelah
serah terima kunci, kita pun enggak langsung tinggal di rumah baru karena
rumahnya masih kosong melompong hahaha… Membeli perabotan rumah adalah hal lain
yang paling menguras dompet tapi seru dan menyenangkan karena bisa memilih
sendiri sesuai keinginan kita. Kalau orang lain honeymoon, kita malah ke toko furniture cari yang sesuai kantong.
Alhamdulillah Allah SWT beri kemudahan bisa membeli furniture dari amplop
pernikahan dan menutup tembok bagian belakang karena samping rumah masih
kebon.
Kita membuat
perencanaan perabotan apa saja yang paling penting untuk dibeli karena
Alhamdulillah saya langsung diberi amanah oleh Allah SWT setelah menikah. Setiap
bulan kita isi satu persatu perabotan rumah sampai pada kehamilan bulan ketujuh
dan saya sudah merasa tubuh saya cukup kuat untuk pindahan sehingga kami
memutuskan untuk menempati rumah baru. Pengalaman pertama menempati rumah hanya
berdua dengan suami di saat saya sedang hamil merupakan hal yang baru bagi
saya. Saat itu saya masih bekerja dan suami juga sering dinas ke luar sehingga
orangtua suka merasa khawatir jika saya tiba-tiba melahirkan dan tidak ada
orang hehehe... Tapi kami tidak ingin merepotkan orangtua terus menerus,
walaupun kami tau mereka tidak merasa seperti itu sehingga saya berusaha untuk bisa
mandiri
Renovasi Pertama
Waktu
berjalan sampai kehamilan saya yang kedua di akhir tahun 2011, saya dan suami
berencana untuk renovasi kecil-kecilan yaitu merapihkan carport dan taman,
memperbaiki atap bocor, mengecat rumah dan membongkar kamar pembantu. Renovasi
dimulai pada bulan Januari 2012, awal mulanya kita hanya ingin memperbaiki atap
bocor dan mengecat rumah karena sudah berumur 2 tahun. Ternyata berlanjut
pasang atap kanopi untuk carport, pasang conblock dan lain-lain
sehingga budget melebar sampai dua kali lipat. Pengalaman ini yang
membuat kita harus merencanakan dengan matang kalau mau renovasi
kembali.
Merencanakan Renovasi Kedua
Di tahun
2016, kami sedang berencana melakukan renovasi kembali dan agak besar karena
mau menutup halaman belakang, merombak pagar dan halaman depan, ganti atap
serta kusen-kusennya, dan menambah kamar satu lagi. Sebenarnya kamar tidur
sudah ada 2 buah, cukup untuk saya dan anak-anak tidur di kamar masing-masing,
namun jika ada saudara jauh yang datang menginap rasanya tidak enak kalau harus
tidur di kamar anak-anak, oleh sebab itu kita berencana mau menambah kamar yang
ketiga khusus untuk ruang membaca dan bermain anak sekaligus bisa juga
digunakan jika ada orangtua atau saudara yang datang.
Kami sepakat
untuk tidak meminjam bank, karena kami percaya Allah SWT akan mencukupi seperti
halnya pada saat renovasi pertama walaupun harus menabung dulu. Kami sedang
berusaha hijrah dari riba dan inginnya segera melunasi KPR. Alhamdulillah hanya
tinggal cicilan KPR yang belum lunas sehingga setelah renovasi, rencana kita
selanjutnya adalah melunasi cicilan rumah. Bagaimanapun manusia hanya berusaha,
Allah SWT yang menentukan, semoga jalan kami ini di ridhoi Allah SWT.
Renovasi Kedua
Di tahun
2017, setelah menabung sekian lama akhirnya kami memutuskan untuk melakukan
renovasi kedua. Dengan berbekal tabungan, kami memberanikan diri untuk
melakukan pekerjaan secara borongan dengan tukang yang sama pada saat renovasi
pertama kali karena track record nya
bagus dan hasil pekerjaan yang memuaskan. Kami sempat terkejut dengan biaya
yang diajukan karena hampir sama dengan biaya membeli rumah baru kami dahulu. Tapi
kami berfikir renovasi ini kebutuhan bukan hanya keinginan karena kondisi atap
kami yang terbuat dari kayu membuat rayap mudah menggerogoti sehingga akan lebih
berbahaya jika ditunda. Jadi, tips dari saya ketika melakukan renovasi rumah
yaitu:
1. Carilah kontraktor dengan tukang yang berpengalaman
yang sudah diketahui hasil pekerjaannya baik, jujur dan terpercaya. Kita bisa
mencari 2 kandidat tersebut atau lebih untuk perbandingan biaya, tenaga dan
spesifikasi bahan bangunan.
2. Fokus pada bagian darurat
yang ingin direnovasi dan sebaiknya melebihkan budget sebesar 20% dari rencana awal karena ini untuk
mengantisipasi hal-hal yang tidak diprediksi sebelumnya. Sebisa mungkin gambar design rumah sudah matang dan detil agar tidak terjadi bongkar pasang bangunan sehingga pekerjaan bertambah banyak dan banyak bahan yang terbuang.
3. Diskusikan RAB dan gambar design rumah dengan kontraktor secara lengkap dan detil,
sampaikan kebutuhan kita namun sebaiknya kita juga sudah mengetahui paling
tidak sedikit informasi tentang bahan bangunan sehingga bisa bernegosiasi dan ada
alternatif kontraktor lain bisa dipiih ketika tidak ada kesepakatan harga. Bijak-bijaklah dalam menilai kebutuhan dan keinginan kaena RAB bisa membengkak jika ada penambahan biaya yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.
4. Buat masing-masing budget
terpisah untuk pengeluaran bahan bangunan dan pembelian
furniture rumah untuk membuat prioritas mana yang lebih didahulukan. Jika masih bisa menggunakan furniture lama akan lebih meminimalisir biaya dan lakukan riset jika ingin membeli furniture baru untuk mendapatkan harga yang lebih murah namun dengan fungsi yang sama.
5. Sediakan makanan ringan dan minuman untuk para
tukang untuk penyemangat mereka bekerja.
6. Buat perjanjian hitam
diatas putih dan tuliskan pekerjaan renovasi yang dilaksanakan sehingga ketika
ada kekurangan atau permasalahan tinggal mengacu ke surat perjanjian.
7. Kita bisa memilih untuk
membeli sendiri bahan bangunan atau mempercayakan kepada kontraktor tergantung dari
kesepakatan awal. Karena saya memakai sistem borongan, otomatis kontraktor yang
membeli seluruh kebutuhan bahan bangunan dengan catatan di awal kesepakatan
kontraktor menjelaskan bahwa bahan bangunan yang dipakai adalah setingkat A dan
keramik setingkat A dan bisa memilih modelnya dari katalog yang diberikan.
8. Sebagai tuan rumah
baiknya mengecek pekerjaan tukang, bisa jadi ada beberapa hal yang ternyata
beda persepsi antara mandor dan tukang, namun juga tidak terlalu sering mengomentari
karena tukang juga manusia, sampaikan dengan baik apabila ada yang kurang
sepaham.
9. Pembayaran yang
dilakukan tepat waktu akan membuat pekerjan juga bisa dilaksanakan dengan baik,
bicarakan dengan kontraktor mengenai metode pembayaran, apakah dibayarkan
berdasarkan proyek yang selesai atau ada ketentuan lainnya.
Saya
tidak ahli di bidang bangunan, jadi tips nya tidak banyak dan mungkin tidak
memberikan informasi memadai, jadi banyak-banyaklah mencari informasi mengenai
spesifikasi dan model yang diingikan. Alhamdulillah pekerjaan berjalan lancar
dan biaya renovasi bisa dibayarkan tanpa harus berhutang, sungguh Allah Maha
Kaya, jadi kalau mau meminta cukup hanya kepada Allah SWT semata. Semoga kami bisa
segera melunasi cicilan KPR juga dan bisa hijrah menuju hidup tanpa riba,
aamiin.
*Updated 2018