Showing posts with label Journal. Show all posts
Showing posts with label Journal. Show all posts
6/28/17
Halooo… masih ada yang baca blog
ini? Hihihi.. enggak pernah di update sih, siapa juga yang mau baca, padahal
ngakunya mau ngedit blog biar lebih mudah dibaca eh… ternyata malah dianggurin.
Sebenarnya saya terlalu pusing untuk memposting resume seminar yang mana dulu,
soalnya masih ada sekitar 20 an seminar dan workshop yang belum saya resumekan
dan saya pernah janji untuk posting satu persatu. Wuidih hutang tuh, harus
dibayar loh! Hehe…
Sejujurnya
selama 6 bulan ini, saya sedang mengeksekusi beberapa resolusi 2017 yang udah
dibuat di awal tahun ini. Mengawali tahun 2017 dengan ikut PSPA Abah Ihsan dan kepanitiaan
seminar Money Management oleh ibu Elly Risman, selanjutnya mengikuti pelatihan
BCCT atau metode sentra dan Parenting Nabawiyah plus belajar Bahasa Arab dari
awal lagi. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang memberi kemudahan dalam
mempelajari ilmu-Nya yang sangat luas walaupun terkadang sambil membawa 2
kiddos naik kereta itu lumayan menguras tenaga, hehe... Belum lagi lokasi
pelatihan yang muter-muter Jakarta - Tangerang - Bekasi, jadi waktu dan tenaga
tercurah ke sana dan kembali blog ini KOSONG hahaha… Masya Allah bertemu dengan
teman-teman di grup parenting yang sama di pelatihan tersebut dan bahkan telah
menjadikan rumahnya sebagai majelis ilmu, semoga berkah selalu ya.
Jadi, saya ingin mereview 29
tahun perjalanan hidup saya, yang memasuki usia 30 tahun di hari ini. Terbesit
keinginan ingin hidup lebih terarah dan fokus ke tujuan spesifik, jadi selama
ini enggak fokus dong? Mungkin bukan enggak fokus, tapi yang sebelumnya fokus
ke tujuan hidup secara umum, saat ini ingin fokus ke tujuan hidup yang lebih
spesifik dan lebih bermanfaat dunia akhirat. Sebelumnya ketika ikut
matrikulasi, saya sempat membuat milestone
dan berkomitmen mencapai 10.000 jam terbang mulai dari KM 0 pada usia 27 tahun.
Namun, pada realisasinya hingga saat ini di usia 30 tahun, terlihat sebagai
berikut:
KM
0 - KM 1 (usia 27-29 tahun): Bunda sayang yaitu mempelajari dan menguasai
pengasuhan anak dengan menghadiri seminar dan pelatihan sebagai dasar mengasuh
dengan baik, benar dan menyenangkan, mempelajari secara rutin kajian ilmu agama
dan mengikuti pelatihan manajemen pendidikan anak usia dini.
KM 1 - KM 2 (usia 29-31 tahun): Bunda cekatan yaitu manajemen pengelolaan diri khususnya
time management dan rumah tangga (homemaking) dan memulai home education dengan metode sentra/BCCT serta mempelajari ilmu seputar kepenulisan.
KM 2 – KM 3 (usia 31-33 tahun): Bunda produktif yaitu mempelajari literasi digital marketing serta memulai bisnis dari rumah.
KM 3 – KM 4 (usia 33-35 tahun): Bunda saleha yaitu berbagi ilmu dan manfaat kepada banyak orang melalui sharing mengenai ilmu yang pernah dipelajari baik melalui online maupun menulis secara kontinu di blog serta mendirikan perpustakaan cafĂ© atau rumah baca.
KM 5 – dst (usia 35 tahun-dst): mengembangkan passion menjadi penulis produktif dan mendirikan wadah edukasi non formal/rumah belajar yang mengakomodir minat dan bakat anak-anak.
Jadi, milestone tersebut berubah
sesuai dengan situasi dan kondisi yang saya jalani saat ini. Namun, milestone
tersebut tetaplah hanya rencana manusia, Allah SWT yang menentukan apakah saya
masih ada umur sampai usia tersebut. Oleh karena itu kedepannya saya ingin
menunaikan janji saya untuk memposting resume seminar dan pelatihan yang belum
sempat ditulis dan tentunya disesuaikan dengan luangnya waktu karena saya takut
ditagih di akhirat nanti hehehe… Semoga blog ini bisa bermanfaat untuk semua
orang dan juga anak-anakku di masa mendatang.
Saya
juga turut mengucapkan:
SELAMAT
HARI RAYA IDUL FITRI 1438 H
TAQABBALALLAHU
MINNA WA MINKUM
MOHON
MAAF LAHIR DAN BATIN
1/20/16
With or Without TV
Sudah setahun lebih kita
menjalankan “no TV at home. Emang nggak
berasa tau-tau kita udah menjalaninya cukup lama. Susah? Nggak juga. Malah
banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari situ. Bagi yang nggak terbiasa
mungkin akan merasakan, duh kayak orang dalam hutan aja nih nggak tau berita
apa-apa. Lah kan ada sumber informasi lain contohnya internet dan koran. Nggak
ada tv bukan berarti nggak ada internet, teknologi tetap kita pakai dalam
kehidupan sehari-hari, kalo nggak gimana saya dapat bahan home education buat anak-anak saya hehehe… Maksudnya no TV disini adalah program TV yang buat
kita pantengin TV terus sehingga bikin kita terlena males beranjak. Kalau
internet sih saya memang pake wifi di rumah, tapi anak-anak nggak bisa pakai
soalnya mereka nggak punya gadget dan
wifi pun berpassword. Jatah berlayar anak-anak pun hanya 30 menit (walau
sebenarnya idealnya umur 3-5 tahun jatah layarnya hanya 10 menit) dan itu pun
habis tidur siang dan mandi, kalau mereka nggak jalanin itu, ya nggak dapet
jatah nonton DVD atau main di tablet.
Hikmah yang bisa didapat dari nggak
nonton tv itu banyak banget loh. Mungkin bisa saya jabarkan dalam hal-hal
berikut ini:
1.
Lebih banyak waktu produktif yang bisa digunakan
misalnya baca buku, nulis blog kayak gini, browse
kegiatan-kegiatan anak atau nemenin anak-anak main. Sejak saya jarang nonton TV
terus terang saya jadi lebih bisa manage
waktu dengan baik karena waktu produktif yang bisa kita gunakan itu
kadang-kadang bisa hilang kalau kita awalnya iseng nonton tv, setelah itu
berganti acara baru yang juga seru, berita seleb yang nggak habis-habis dan
berita politik yang nggak tuntas. Melek informasi itu perlu, hanya bagaimana
kita mengatur waktu kita supaya nggak terlena dengan acara yang ditawarkan TV,
apalagi kalau yang kita tonton malah bikin kita dosa.
2.
Anak- anak sedikit sekali kemungkinan terpapar
hal-hal yang bisa bikin mereka ngikutin gaya yang tidak sesuai dengan usianya.
Sudah lumrah banget deh acara TV sangat memperlihatkan gaya hidup hedonis,
kata-kata tidak sopan atau bahkan gaya yang ngikutin tren luar negeri. Kebayang
kalau saya ingin anak-anak saya jadi anak sholehah, menjalankan perintah agama,
berkata baik tapi dia masih suka nonton TV yang acaranya kaya gitu, kira-kira
bakal kadi anak yang bagaimana dia nantinya?
3.
Hubungan dengan suami semakin hangat. Ya tentu
karena banyak sekali momen curhat kita berdua sekarang dan saling ngeluarin
unek-unek. Jadi, bisa ngeluarin sampah emosi tiap hari yang tentunya penting
bagi saya seorang istri yang bersama anak 24 jam setiap hari. Ini sangat
disarankan oleh psikolog. Emosi itu ibarat air yang mengalir, dia akan mencari
jalan atau celah sedikit pun yang apabila tidak ditampung akan membuat tekanan
yang besar dan akan bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Itulah
kenapa kita harus membuang sampah emosi kita ke tempat yang tepat.
4.
Bayaran listrik lebih hemat. Yah walaupun nggak
berkurang banyak banget tagihannya tapi tetep bikin pemakaian listrik
berkurang.
5.
Bisa mengatur waktu sendiri kapan saatnya ingin
nonton dan nggak penasaran dan galau gara-gara sinetron. Ya saya masih suka
nonton drama korea dan jepang. Dengan nggak nonton TV, saya nggak perlu galau
nungguin kelanjutannya, tinggal beli DVD nya yang sudah tamat, cari waktu yang
tepat (biasanya kalau saya setelah anak-anak tertidur) dan saya bisa manage waktu sendiri sehari nonton
berapa episode, nggak perlu nunggu iklan dan nggak perlu dengerin dubbing. Jadi, nggak perlu juga kayak
emak-emak nungguin sinetron yang tayang setiap jam sekian, terus bilang ke
anaknya, jangan ganggu mamah ya klo lagi nonton film X. Berhubung kita hanya
berempat serumah, jadi kalau saya nonton pas mereka melek ya pastinya mereka
terpapar layar dong, makanya saya hanya nonton DVD setelah mereka pules.
6.
Bikin tidur lebih nyenyak. Kadang acara TV
menghadirkan suguhan yang seru dan kita jadi lalai, nggak sadar tiba-tiba waktu
sudah menunjukkan tengah malam. Kadang TV memang jadi sarana hiburan bagi
keluarga yang merasa suntuk tinggal di kota. Kalau saya dan suami sih
hiburannya kita beli DVD judul film terbaru dan kita nonton berduaan di rumah,
sudah jelas durasi waktunya dan kita bisa pause
atau cepetin dan mundurin hehe..
7.
Tidak perlu TV berbayar karena sebenarnya
sama-sama bikin kita terlena juga. Channel TV berbayar yang jumlahnya ratusan,
gimana nggak bikin kita pindah tempat duduk? Apalagi kalau di negara aslinya
punya perbedaan waktu yang signifikan. Kalau mau tau update perkembangan berita terkini atau sekedar hiburan nonton
acara yang sudah tayang, tonton aja youtube dan surfing internet, pasti banyak banget. Tapi sekali lagi,
bijak-bijaklah menggunakan teknologi karena banyak iklan yang tidak pantas dan
juga tidak semua yang diberitakan tersebut juga benar. Jadi, bacalah minimal 20
berita yang mengabarkan hal yang sama sebelum percaya bahwa berita itu benar.
Bagi keluarga kami, manfaat yang
didapat lebih banyak apabila kami tidak menonton acara TV dalam dan luar
negeri. Dan sejak digital detoks ini
kami lakukan, walaupun hanya secuil dengan tidak menonton TV, saya merasa
kehangatan keluarga semakin bertambah, walaupun tadinya nggak dingin juga hehe…
Ingat tujuan pengasuhan kita apa, tentukan masing-masing tujuan keluarga kita.
Jangan hanya karena ikut-ikutan dan terus akhirnya kehilangan motivasi diri
tentang apa yang ingin dicapai. Masing-masing keluarga memiliki prinsip yang
berbeda dan jangan hanya mengikuti tren yang berlaku, itu sama saja mengasuh
anak tanpa adanya ilmu karena yang akan terjadi adalah kita gampang goyah
dengan godaan di sekeliling kita. Yuk,
mulai berubah ke arah yang lebih baik! Jika yakin bisa, Insya Allah akan ada
jalan menuju kesana.
#ODOPfor99Days
#Day11
1/15/16
Buku dan Mainan Anak
(gambar diambil dari sini)
Salah
satu alat perang saya di rumah utuk membuat anak-anak anteng sedikit adalah
buku dan mainan. It really takes their
times and make her busy for a while.
A while? Yes, only for a while. Kalau diingat-ingat, satu mainan hanya bisa
bertahan paling lama 10-15 menit. Abis itu ya dia ingin beralih ke mainan yang
lain. Apalagi kalau mainannya banyak macamnya. Hehe…merasakan hal yang sama?
Gimana dengan buku? Nah kalau ini agak lebih lama, kalau bukunya sangat
menarik, mereka bisa lebih lama berkutat dengan buku tersebut. Jadi, saya lebih
suka membelikan buku daripada mainan. Tetapi kalau buku, mereka suka minta
dibacain? Ya bagus dong, berarti mereka sudah penasaran dengan yang namanya
buku dan isinya walau memang tidak menjamin si anak akan betah berlama-lama
tapi kita bisa masukkan informasi sebanyak-banyaknya melalui buku.
Informasi
tentang akhlak dan perilaku, pengetahuan, adab-adab, dan banyak hal yang kalau
kita mau rajin carinya, semua tersedia di buku. Jika mainan bisa menstimulasi
syaraf sensorik dan motoriknya, sedangkan buku merangsang imajinasinya.
Bayangkan berapa juta informasi bisa terserap melalui keduanya. Itulah sebabnya
saya pilih-pilih kalau mau membeli mainan dan buku karena banyak sekali
bermacam-macam mainan dan buku yang ditawarkan oleh peberbit dan produsen
mainan. Walau kadang saya suka kewalahan membacakan buku untuk anak-anak karena
jumlahnya yang tidak sedikit, saya tetap menyempatkan waktu paling tidak
membacakan 5 buku dalam sehari.
Kalau
menurut sharing dengan grup parenting yang saya suka ikuti, rentang konsentrasi
anak memang hanya seumur anak tersebut +1. Jadi misal anak tersebut umur 5
tahun, maka rentang konsentrasi anak hanya 6 menit, jadi kalau ada ibu-ibu yang
bilang, “ Aduh, anak saya sering tidak fokus kalau mengerjakan sesuatu,
sebentar-sebentar main ini terus loncat lagi ke yang itu.” Coba di perhatikan
dulu berapa lama dia sudah melakukan hal tersebut, bisa jadi dia memang sudah
kelamaan berkutat dengan permainan yang sama.
Wajar
saja anak merasa bosan, jadi memang orangtuanya lah yang harus menyiapkan jenis
kegiatan dan permainan yang bergantian setiap waktu. Sudah membuat daily activities untuk anak? Saya sudah
sih, tapi kadang dalam prakteknya tetap saja tidak bisa saklek banget. Ada
keringanan yang saya berikan kepada mereka, karena memang waktunya mereka masih
bermain. Main yang terarah sih maunya, makanya seperti yang sebelumnya pernah
saya post tentang lesson plan ini cukup membuat saya
jungkir balik dan begadang. So, ready for
your kid’s daily activties?
#ODOPfor99Days
#Day8
#Day81/14/16
It's OK Not To Share...
Salah
satu masalah yang dipusingkan emak-emak adalah masalah sharing. Gimana tidak pusing, kalau setiap anak dibawa ke tempat
bermain, sekolah, kopdar, atau hanya dirumah, anak tidak lepas dari masalah sharing atau berbagi baik dengan adiknya
atau temannya. Ngomongnya gampang tapi prakteknya susah, hehe,, itulah parenting, makanya kita dituntut untuk
terus belajar supaya kita bisa mempraktekannya sendiri dan konsisten serta dari
sumber yang jelas kebenarannya. Saya bukan ahli parenting atau psikolog, jadi saya cerita dari sisi anak saya saja.
Berhubung umur mereka dekat sekali hanya terpaut jarak 1,5 tahun jadi mereka
sudah seperti teman saja, main bareng, cerita bareng, sedikit berkelahi tapi
sebentar kemudian baikan lagi.
Mungkin waktu mereka kecil saya merasa kerepotan sekali karena saya menjalani tandem nursing selama 6 bulan, waktu itu V masih berusia 1,6 tahun, masih ASI dan harus rela berbagi perhatian dengan adiknya, N. Memang sebaiknya jika adik baru telah lahir, maka ASI sepenuhnya hak adiknya tapi saya berfikir saya ingin menyempurnakan ASI anak saya hingga 2 tahun jadilah saya lanjutkan. Lalu saya juga ingin supaya anak pertama tidak kehilangan bonding dengan saya, maka ide tandem nursing bisa jadi solusi buat saya yang waktu itu masih bekerja. Jadi hal pertama yang harus V sharing adalah perhatian bundanya. Sedih ya kalau bayangin anak umur 1,6 tahun sudah harus berbagi dengan adiknya. Tapi V ini sungguh dengan luar biasa adalah anak bunda yang penurut, kalau diingat-ingat saya sering brebes milih. Ketika saya bilang, bergantian ya (menyusui) dengan adik, dia dengan sabar menunggu. Bukan karena mau, tapi mungkin karena tidak ada pilihan lagi atau terpaksa. Makanya tidak disarankan untuk memiliki anak kurang dari 2 tahun, malah kalau dari program KB seharusnya jarak 5 tahun, jadi tidak ada 2 balita dalam satu rumah.
Setelah lewat masalah menyusui, berlanjut ke masalah mainan. Nah, ini juga bukan masalah baru untuk keluarga yang memiliki anak lebih dari satu. Kalau menurut yang telah saya pelajari, berbagi itu harus diajarkan secara menyenangkan, karena anak yang belajar sharing dengan terpaksa akan tumbuh mindset bahwa berbagi itu tidak menyenangkan bagi si anak. Jleb banget ya! Setelah awal-awal harus terpaksa berbagi masalah menyusui, sekarang harus berbagi mainan. Sebenarnya menurut salah satu grup parenting yang saya ikuti dan literatur yang saya baca, dijelaskan bahwa anak dibawah usia 5 tahun belum mengenal konsep abstrak, sharing itu abstrak. Mereka bisa melakukannya karena dilatih. Nah melatihnya ini yang bikin kita kayak roller coaster, naik turun emosinya. Disitu juga disebutkan bahwa, kita tidak boleh memaksa anak untuk memberikan mainannya kepada anak yang belakangan minta mainan tersebut. Kenapa? Karena selain melatih berbagi, kita sedang melatih mereka mempertahankan hak milik juga.
Bayangkan kalau setiap ada yang meminta, lalu mereka disuruh kasih, lama-lama akan timbul mindset di diri anak kita bahwa dirinya tidak berharga dan saya tidak perlu mempertahankan apa yang saya punya. Ketika mereka besar nanti, rasa memiliki ini harus dipunyai, misal rasa memiliki atau mempertahankan terhadap suami atau istri tapi tentunya bukan rasa memiliki yang berlebihan.
Jadi, ketika ada anak yang meminta mainan yang sudah duluan dipegang anak kita, cukup bilang, “Tunggu ya sampai selesai, nanti kalau sudah selesai mainannya akan dikasih sama si A”, alihkan anak B dengan mainan yang lain. Perlu juga kita bilang ke anak A, “Nanti kalau sudah selesai, boleh dipinjam ya mainannya?”. Sekali lagi ini tidak cukup sekali, mesti latihan dan belum tentu anak B juga menurut untuk main yang lain dan biasanya anak A bilang, aku belum selesai mainannya, hahaha… Disini letak tantangannya, biasanya ortu yang sudah lama melatih anaknya untuk menunggu anak lain yang pegang mainan sampai selesai, anak itu tidak akan langsung merebut walau mungkin masih argue ya, tapi ini juga tidak jadi jaminan anak itu akan langsung kasih loh. Insya allah lama-kelamaan V dan N sedang dalam proses dan sekarang sudah tau makna “tunggu sampai selesai”. Kadang saya tambahkan, “Bilang pinjam dengan baik-baik ya!” soalnya kadang mereka kesel karena kelamaan dan akhirnya sambil marah ngomongnya.
Mungkin waktu mereka kecil saya merasa kerepotan sekali karena saya menjalani tandem nursing selama 6 bulan, waktu itu V masih berusia 1,6 tahun, masih ASI dan harus rela berbagi perhatian dengan adiknya, N. Memang sebaiknya jika adik baru telah lahir, maka ASI sepenuhnya hak adiknya tapi saya berfikir saya ingin menyempurnakan ASI anak saya hingga 2 tahun jadilah saya lanjutkan. Lalu saya juga ingin supaya anak pertama tidak kehilangan bonding dengan saya, maka ide tandem nursing bisa jadi solusi buat saya yang waktu itu masih bekerja. Jadi hal pertama yang harus V sharing adalah perhatian bundanya. Sedih ya kalau bayangin anak umur 1,6 tahun sudah harus berbagi dengan adiknya. Tapi V ini sungguh dengan luar biasa adalah anak bunda yang penurut, kalau diingat-ingat saya sering brebes milih. Ketika saya bilang, bergantian ya (menyusui) dengan adik, dia dengan sabar menunggu. Bukan karena mau, tapi mungkin karena tidak ada pilihan lagi atau terpaksa. Makanya tidak disarankan untuk memiliki anak kurang dari 2 tahun, malah kalau dari program KB seharusnya jarak 5 tahun, jadi tidak ada 2 balita dalam satu rumah.
Setelah lewat masalah menyusui, berlanjut ke masalah mainan. Nah, ini juga bukan masalah baru untuk keluarga yang memiliki anak lebih dari satu. Kalau menurut yang telah saya pelajari, berbagi itu harus diajarkan secara menyenangkan, karena anak yang belajar sharing dengan terpaksa akan tumbuh mindset bahwa berbagi itu tidak menyenangkan bagi si anak. Jleb banget ya! Setelah awal-awal harus terpaksa berbagi masalah menyusui, sekarang harus berbagi mainan. Sebenarnya menurut salah satu grup parenting yang saya ikuti dan literatur yang saya baca, dijelaskan bahwa anak dibawah usia 5 tahun belum mengenal konsep abstrak, sharing itu abstrak. Mereka bisa melakukannya karena dilatih. Nah melatihnya ini yang bikin kita kayak roller coaster, naik turun emosinya. Disitu juga disebutkan bahwa, kita tidak boleh memaksa anak untuk memberikan mainannya kepada anak yang belakangan minta mainan tersebut. Kenapa? Karena selain melatih berbagi, kita sedang melatih mereka mempertahankan hak milik juga.
Bayangkan kalau setiap ada yang meminta, lalu mereka disuruh kasih, lama-lama akan timbul mindset di diri anak kita bahwa dirinya tidak berharga dan saya tidak perlu mempertahankan apa yang saya punya. Ketika mereka besar nanti, rasa memiliki ini harus dipunyai, misal rasa memiliki atau mempertahankan terhadap suami atau istri tapi tentunya bukan rasa memiliki yang berlebihan.
Jadi, ketika ada anak yang meminta mainan yang sudah duluan dipegang anak kita, cukup bilang, “Tunggu ya sampai selesai, nanti kalau sudah selesai mainannya akan dikasih sama si A”, alihkan anak B dengan mainan yang lain. Perlu juga kita bilang ke anak A, “Nanti kalau sudah selesai, boleh dipinjam ya mainannya?”. Sekali lagi ini tidak cukup sekali, mesti latihan dan belum tentu anak B juga menurut untuk main yang lain dan biasanya anak A bilang, aku belum selesai mainannya, hahaha… Disini letak tantangannya, biasanya ortu yang sudah lama melatih anaknya untuk menunggu anak lain yang pegang mainan sampai selesai, anak itu tidak akan langsung merebut walau mungkin masih argue ya, tapi ini juga tidak jadi jaminan anak itu akan langsung kasih loh. Insya allah lama-kelamaan V dan N sedang dalam proses dan sekarang sudah tau makna “tunggu sampai selesai”. Kadang saya tambahkan, “Bilang pinjam dengan baik-baik ya!” soalnya kadang mereka kesel karena kelamaan dan akhirnya sambil marah ngomongnya.
Lalu
bagaimana dengan barang/mainan yang memang milik anak kita tapi dipegang duluan
oleh anak lain? Pertama jika memang ada mainan/barang kesayangan anak kita yang
tidak mau dipegang anak lain, pisahkan dan simpan. That’s it! Daripada ribut memisahkan anak bertengkar karena tidak
mau pinjamin, ya cukup simpan saja, tanyakan mana yang mau dimainkan bersama
teman-teman. Selanjutnya, jika mainan yang sudah disepakati untuk main bersama
berarti akan menjadi milik anak yang memegang duluan bukan milik anak yang
membelinya, kenapa? Karena anak belum paham konsep hak milik, mereka berpikir semua
adalah miliknya. Ingat anak dibawah 5 tahun belum mengenal konsep abstrak, hak
milik itu abstrak. Kalau si anak tersebut merebut dari tangan anak lain, maka
hak milik barang akan jatuh kepada anak yang memegang lebih dulu, itu
aturannya.
Cara memberitahu supaya anak tidak merebut ataupun mau berbagi sebaiknya adalah ketika si anak santai dan bukan pada saat kejadian rebutan berlangsung, misal melalui cerita sebelum tidur atau ketika anak sedang bahagia karena saat itulah otak anak menyerap lebih banyak. Jadi bukan dengan paksaan menyuruh mereka pinjami atau malah menyebut anak kita pelit. Please, jangan melabel anak kita dengan kata-kata yang akan menjadikan kepercayaan dirinya rendah. Jadikan anak kita bahagia dalam berbagi sehingga ketika dia besar dia akan merasa bahwa berbagi dengan orang lain adalah suatu hal yang menyenangkan.
Cara memberitahu supaya anak tidak merebut ataupun mau berbagi sebaiknya adalah ketika si anak santai dan bukan pada saat kejadian rebutan berlangsung, misal melalui cerita sebelum tidur atau ketika anak sedang bahagia karena saat itulah otak anak menyerap lebih banyak. Jadi bukan dengan paksaan menyuruh mereka pinjami atau malah menyebut anak kita pelit. Please, jangan melabel anak kita dengan kata-kata yang akan menjadikan kepercayaan dirinya rendah. Jadikan anak kita bahagia dalam berbagi sehingga ketika dia besar dia akan merasa bahwa berbagi dengan orang lain adalah suatu hal yang menyenangkan.
#ODOPfor99Days
#Day7
1/13/16
V, Sekolah Tak Perlu Airmata
Saya mengambil judul dari salah
satu buku pak Munif Chatib yaitu “Bella: Sekolah Tak Perlu Air Mata”. Tapi kali
ini saya tidak sedang meresume buku tersebut, saya mau menceritakan sedikit
penggalan kisah anak saya V waktu masih sekolah. Sebelumnya perlu diketahui
bahwa saya tidak menulis sesuatu yang membandingkan antara anak sekolah dan
tidak sekolah maupun baik-buruknya metode yang dipakai oleh sekolah ataupun ibu
bekerja dan tidak bekerja. Tulisan ini benar-benar murni berdasarkan pengalaman
nyata yang saya jadikan ibrah untuk kedepannya. Jadi, cerita ini hanya sharing dan bukan untuk bahan mom’s war lainnya, please stop the mom’s war!
Saya
suka sekali melakukan riset terhadap dunia anak sejak kehamilan dan melahirkan
namun dulu saya adalah ibu bekerja dan belum optimal dalam menstimulasi anak di
rumah karena terbatasnya waktu saya bertemu dengan anak di rumah. Setelah
melakukan riset mendalam, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada suatu metode
yang menurut saya sangat bagus yaitu metode montessori dan menyekolahkan anak sulung
saya di playgroup sekolah montessori berbasis Islam di umur 2,7 tahun.
Waktu itu saya berpikir daripada di
rumah dengan pembantu sedangkan anak saya butuh stimulasi secara konsisten,
jadi saya menyekolahkan anak saya di usia yang sangat dini. Banyak sekali
komentar positif tentang metode tersebut dan saya sangat tertarik dengan metode
dan filosofi yang diajarkan dalam masing-masing aparatusnya. Lalu saya
memutuskan resign karena ingin membersamai kedua anak saya dan tidak ada yang
mengantar ke sekolahnya.
Di hari pertama, anak saya menolak
untuk masuk dan menangis sejadi-jadinya karena banyak bertemu dengan orang baru.
Sedih melihatnya dan ada perasaan bersalah karena meninggalkannya bekerja sejak
bayi. Waktu itu saya sudah membaca hal yang berkaitan dengan parenting, hanya
saja ilmu dan aplikasinya masih kosong karena baru saja resign, jadi belum mengenal isitilah hutang kelekatan karena
ditinggal bekerja.
Sekolah memberikan batas waktu 3
hari untuk menemani anak sulung saya di dalam sekolah, setelahnya tidak boleh
ditemani di dalam ruangan, orang tua harus menunggu diluar. Menurut sekolah,
anak diajarkan untuk mandiri dan menjaga supaya orang tua tidak mengganggu di
dalam kelas misalnya dengan membantu anak berlebihan ataupun memfoto kegiatan
anak selama di kelas.
Pada
hari ketiga, anak saya meronta-ronta ketika masuk kelas, saya hanya melihat
dari jendela. Gurunya pun mengatakan, “Tidak apa-apa bu, dia hanya sedang
adapatasi, nangisnya paling hanya sebentar setelah itu akan bermain lagi. Ibu
percaya sama saya dan guru lainnya karena emosi ibu akan tersalurkan ke
anaknya. Jika ibunya sedih dan khawatir, anak akan mengikuti.” Dengan berat
hati saya lepaskan anak saya ke dalam kelas dan proses ini berjalan sampai 2
minggu ke depannya dan setelah 2 minggu memang mereda, saya lihat anak saya have fun didalam kelas montessorinya.
Montessori menekankan pada pembelajaran
melalui sentuhan atau hands on learning.
Anak saya belajar melalui stamping, fingerpainting,
maupun melalui aparatus montessori di kelasnya. Namun, pada usia playgroup
anak saya sudah mulai dikenalkan dengan huruf melalui worksheet dan sandpaper.
Waktu itu pemikiran saya masih sejalan dengan sekolahnya dan kebetulan saya
tergabung dalam komite sekolah sebagai wakil ketua.
Setelah berjalannya waktu, ada
beberapa ortu murid yang cerita ke saya mengenai guru yang kurang sigap dan
saya pun merasakan hal yang sama. Namun, saya lihat perkembangan anak saya
pesat sekali, kosakatanya dalam bahasa inggris meningkat, anak saya mulai bisa
belajar berbagi, hafalan suratnya juga sudah jauh diatas harapan saya walaupun
saya tidak pernah menarget dan memaksa anak saya untuk bisa hal-hal kognitif. Saya
belum menyadari bahwa ternyata ada efek negatif dari menyekolahkan anak terlalu
dini padahal bisa saja saya yang menstimulasi dari rumah, hanya saja ilmunya
belum memadai.
Kemudian
pada akhir tahun ajaran, gurunya menekankan bahwa anak saya tidak bisa naik ke
TK A dan tetap di playgroup. Gurunya mengatakan secara kognitif anak saya
memang mampu, namun secara emosi belum matang. Saya belum memahami kenapa bisa
begitu dan belum merasakan resiko yang akan terjadi. Guru sudah menjelaskan
tapi alasannya menurut saya belum lengkap dan terbukti, apalagi ilmu parenting saya masih cetek untuk paham
bahwa anak yang dikarbit akan matang sebelum waktunya. Alasannya adalah saya
pernah baca literatur yang menyatakan bahwa anak perempuan matang lebih cepat
secara psikologis daripada laki-laki jadi saya kekeuh menafsikan hal tersebut
dan menganggap anak saya mampu naik ke TK A, padahal pendapat tersebut tidak
sepenuhnya benar.
Akhirnya di tahun ajaran baru, saya mengundurkan
diri dan setelah melakukan riset kemudian pindah ke TK yang menggunakan metode
BCCT dan bisa masuk ke TK A. Pemilik sekolah sebelum dan setelah pindah
sama-sama seorang psikolog dan sama-sama sekolah inklusi namun metode
pendekatan yang dilakukan berbeda. Metode BCCT ini sangat bagus karena non-direct teacihing dan anak diberikan
kesempatan untuk bermain di dalam masing-masing sentra.
Singkat cerita, shadow teacher di sekolahnya mengundurkan diri sehingga tidak ada
yang memegang ABK padahal peran shadow
teacher sangatlah penting. Saya melihat ABK tersebut seperti terabaikan
karena tidak ada yang mengawasi dan refleks mulai memukul anak lain serta
tantrum dengan menjatuhkan diri dan memukul-mukul lantai. Suatu ketika muka anak saya ada cakaran dan saya komunikasikan ke
gurunya, makin lama anak saya semakin sering bercerita bahwa dia sering dipukul
bagian kepalanya dan menangis tidak mau sekolah lagi. Saya mencoba
komunikasikan lagi kepada guru dan gurunya menyarankan bahwa kalau dipukul, dia
mengajarkan ke keponakan dia untuk memeluknya. Saya keberatan karena anak saya
berumur 4 tahun dan tidak sanggup menanggulangi ABK yang tantrum dimana anak
tersebut sudah berumur 8 tahun, tenaganya pasti lebih besar. Seharusnya
menenangkan ABK yang tantrum dilakukan oleh orang dewasa di sekolah yaitu guru
bukan anak-anak.
Setelah konsultasi dengan konselor
grup parenting, saya putuskan menarik anak saya dari sekolah tersebut walau
masih di tengah tahun ajaran karena setiap akan masuk ke kelas terlihat ketakutan.
Menyayangi teman sudah ditanamkan sejak pertama masuk sekolah tapi memang butuh
usaha lebih besar untuk mencegah tidak terjadi pukulan dan cakaran karena
ketidakberadaan shadow teacher yang
mendampingi. Saya sangat memaklumi dan mengerti keadaan anak tersebut jadi saya
yang memilih mundur.
Banyak pengalaman yang saya dapatkan
dari kejadian tersebut dan menjadi pembelajaran saya kedepannya bahwa ada hal-hal
yang tidak saya sadari akan berdampak pada anak baik yang terlihat maupun
tidak. Jadi, pertimbangkan hal-hal berikut sebelum memutuskan anak sekolah di
PAUD:
1.
Apakah anak sekolah karena keinginan orang tua atau keinginan anak? Jika anak
sekolah karena keinginan orangtua, maka anak akan menjadi objek tempat orangtua
menaruh impian dan harapan yang berlebihan, misalnya berharap anak sudah bisa
melakukan hal-hal tertentu yang dulu mungkin orangtuanya tidak dapatkan,
istilah populernya adalah dendam positif. Jika sekolah karena keinginan anak,
maka sadar atau tidak orangtua akan menjadi alat untuk mencapai keinginan anak.
Tidak semua keinginan anak itu baik untuk dilakukan, jadi tugas orangtua adalah
membantu untuk memberikan arahan dan pandangan serta jelaskan situasi dan
kondisi apa yang akan mereka temui di sekolah nanti. Bukan berarti ketika anak meminta
sekolah kemudian orangtua berpikir bahwa anaknya sudah siap sekolah, sangat
berbeda maknanya karena keinginan anak itu berubah-ubah. Jadi, bukan dengan
menyalahkan anak ketika anak mogok sekolah dengan mengatakan bahwa anak
tersebut yang ingin sekolah. Jadi, sebaiknya anak sekolah ketika mereka sudah
siap untuk bersekolah dan siap melaksanakan aturan-aturan di sekolah.
2.
Sekolah terdapat aturan dan anak wajib untuk mengikutinya. Setiap sekolah
memiliki peraturan tersendiri misalnya ada jam masuk dan jam pulang, ada waktu
makan dan bermain. Jika sekolahnya ramah anak, maka aturan dibuat dengan
mempertimbangkan kebutuhan anak, anak yang belum memahami aturan diberikan
arahan dan bukan diberikan hukuman. Kalaupun diberikan konsekuensi, maka
haruslah berhubungan dengan perilakunya supaya anak belajar sebab-akibat bukan
hukuman tanpa makna.
3.
Di sekolah, anak akan belajar untuk berbagi dan antri dengan teman. Berbagi dan
antri itu abstrak sehingga perlu dilatih untuk melakukannya karena anak dibawah
usia 7 tahun masih dalam fase konkrit. Jadi, sekolah yang ramah anak akan
mengajarkan anak berbagi bukan dengan terpaksa tapi dengan memberi apresiasi
ketika anak sudah mau berbagi dan menghargai jika anak belum mau berbagi supaya
tumbuh mindset bahwa berbagi itu menyenangkan. Jika sekolah memperhatikan
tumbuh kembang anak, maka akan memahami bahwa rentang konsentrasi anak
sangatlah singkat sehingga butuh beragam alat main untuk memfasilitasi mereka
dan menyediakannya sesuai kebutuhan anak serta seimbang dengan jumlah anak.
Jadi, kalaupun harus antri dan berbagi maka diberikan kesempatan kepada anak
untuk melakukannya namun tidak terlampau lama karena rentang konsentrasi mereka
yang singkat.
4.
Sekolah terdiri atas beragam karakter anak dan latar belakang yang berbeda.
Jadi anak akan menemui banyak perbedaan perilaku dan akan ada kecenderungan
anak untuk mengikuti perilaku temannya ataupun tidak karena anak masih belum
bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Tidak hanya di sekolah, namun di
lingkungan sekitar juga bisa memberikan efek yang baik atau buruk terhadap
tumbuh kembang anak. Ini merupakan tugas orangtua dalam memberikan penjelasan
mengenai mana yang baik dan buruk tanpa melabel anak.
5.
Di sekolah, anak akan berlatih kemandirian salah satunya dalam hal ke kamar
mandi. Apakah anak sudah bisa memberi tahu jika ingin ke kamar mandi,
membersihkan diri dan kamar mandi setelah buang air, menutup aurat setelah
selesai buang air, dll. Sebaiknya anak sudah dilatih sebelumnya di rumah
mengenai hal tersebut karena itu merupakan kewajiban orangtua. Letak kamar
mandi di sekolah juga bisa dijadikan pertimbangan misalnya tidak berada di
belakang dan banyak dilalui oleh orang-orang.
6.
Berbagai macam metode bagus yang ditawarkan sekolah belum tentu menjamin anak
kita cocok dengan metode tersebut. Jadi, pilih metode yang tidak men-drilling anak dan sesuai dengan
kebutuhan anak serta merujuk pada Al-Quran dan hadits.
Selama ini saya hanya mencari
informasi dengan riset di internet dan buku, ternyata itu tidak cukup untuk
mendampingi dan mendidik anak secara langsung. Banyak kesalahan-kesalahan yang
telah saya lakukan baik sengaja maupun tidak sengaja kepada anak sehingga
orangtua harus terus menerus belajar untuk mengimbangi perkembangan anak. Saya
mulai mengikuti grup parenting dan mulai mengikuti seminar dan pelatiihan secara
langsung, bisa berkumpul dan bertemu dengan beragam ibu-ibu dari latar belakang
yang berbeda dan memiliki permasalahan yang sama membuat kita tidak merasa
sendirian serta memiliki tujuan yang sama yaitu ingin mendidik anak dengan baik
dan benar sesuai Al-Quran dan hadits. Semoga istiqomah!
1/8/16
Lesson Plan
(cr: inservice.ascd.org)
Resolusi
tahun 2016 ini salah satunya adalah membuat lesson
plan dan menerapkannya di rumah (walau belum konsisten). Membuat lesson plan itu sungguh bikin kepala pusing
karena ilmunya belum saya pahami betul, jadi saya buat sesuai buku,
kurikulum sekolah terdahulu dan browsing
internet saja. Kalau dibandingkan dengan tahun kemarin, saya hanya membuat jadwal
anak-anak secara umum saja yaitu menyangkut tema minggu tersebut dan langsung
dijalankan walau kadang aktifiitas yang dilakukan tidak sesuai dengan tema,
masih campur aduk. Hanya saja dengan cara ini bikin kegiatan jadi tidak
terstruktur, semua serba kejar-kejaran karena harus donwload printable segambreng
dan mencari aktifitas anak yang sesuai tema dan ujung-ujungnya tidak terlaksana
dengan baik karena habis waktu untuk blogwalking bahan dan kegiatan. Akhirnya karena
banyaknya bahan yang perlu dicari di internet dan menyediakan bahan setiap
sebelum melakukan aktifitas, saya menyerah dan anaknya jadi freeplay dan kurang
terarah. Tahun ini rencananya ingin lebih bisa mendokumentasikan dengan lebih baik
(niatnya), aplikasinya kita lihat nanti (mood swing mendera) hahaha…
1/7/16
Menulis, Tak Lekang oleh Zaman
Salah
satu hobi saya waktu masih di SD adalah membaca dan menulis. Waktu kecil, saya tidak
menyadari kalau saya sangat suka mengarang, terutama ketika ulangan. Tapi entah
kenapa saya tidak suka pelajaran bahasa Indonesia. Menurut saya buku pelajaran sewaktu
dulu sangat membosankan karena hanya disuruh cari kalimat utama, kalimat
efektif, majemuk, majas dan lain-lain, padahal untuk membuat karangan yang
bagus tentu harus mempelajari dulu kalimat-kalimat tersebut.
Ketika
SD, saya sempat mengarang cerpen yang saya tunjukkan hanya ke kakak saya, cerpennya
masih saya ingat sampai sekarang, bertemakan misteri. Waktu itu sedang hits alat permainan di mall berbentuk
kotak berukuran 2x3 m dan digunakan untuk membaca garis tangan.
Dalam cerita, mesin itu bisa meramal
kejadian di masa yang akan datang, baik bencana atau keberuntungan. Terkisah
seorang gadis yang selalu tepat mengalami kejadian yang diberitahukan oleh
mesin ramalan itu. Jika tangannya dimasukkan ke lubang mulut mesin tersebut,
maka selanjutnya akan keluar kertas bertuliskan teka-teki yang akan terjadi di
kemudian hari. Aneh ya, sebenarnya saya ga percaya ramalan tapi kenapa saya
bikin cerita kayak gitu, yah namanya anak SD haha…
Beranjak SMP, saya juga pernah bikin
cerpen tentang perjalanan waktu, istilah kerennya time travel yang dibumbui romance.
Tulisannya masih ada sampai sekarang dan masih ditulis tangan pakai pensil,
yakaleee enggak punya laptop jaman dulu. Ternyata di tahun 2012 tema time travel malah ngehits banget di dunia perdrakoran. Jadi,
saya senang banget ketika tema itu diangkat ke film karena seolah imajinasi
menjadi kenyataan. Kemudian suka membuat manga karena keracunan komik dari
teman, gambarnya kaku banget kalau dilihat sekarang dan masih disimpan dengan
rapih.
1/6/16
A Letter for NZK
By Zeth
1/06/2016 10:29:00 PM //
(cr: wall.alphacoders.com)
25 Juni 2029
Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh
Dear N, my sweetheart
Apa kabar, sayang?
Alhamdulillah kini kau memasuki umur
17 tahun, Barakallahu fii umrik.
Tepat 3 tahun 6 bulan umurmu ketika bunda buatkan surat ini.
Tepat 3 tahun 6 bulan umurmu ketika bunda buatkan surat ini.
Bunda tuliskan surat ini sebagai
penyemangatmu jika kau sedang merasa sedih, sebagai penambah rasa syukurmu jika
kau sedang berbahagia, sebagai pengingatmu jika kau sedang bimbang.
N sayang, sejak kecil ingatanmu sangat kuat, bahkan hal-hal kecil dan detail bisa kau deskripsikan dengan sangat baik.
Apakah itu pohon, orang atau lingkungan di sekitarmu.
Kosakatamu meningkat tajam dr sebelumnya yang jarang bicara hingga menjadi super bicara.
Kecerdasan logikamu sangat baik terlihat dari rasa ingin tahumu yang sangat besar dan selalu menuntut jawaban logis.
Sesungguhnya bunda hanya mengasah keterampilanmu, selanjutnya biar kau yang tentukan kelak apa profesi yang akan menghidupimu kelak.
I guess it isn't so hard, since u always criticize me a lot.
I hope you'll find your way, as long as it fits with the Alquran
Sayang, apa yang sedang kau tangisi?
Apakah kepergian temanmu atau perdebatan dengan ayah bundamu?
Entah kenapa perasaan di hatimu selalu mengalir ke hati bunda.
Mungkin karena kita punya ikatan batin, ya, bonding nak.
Yang tidak akan bisa hilang oleh jarak dan waktu, takkan bisa tergantikan oleh siapapun dan tidak akan bisa terukur dengan apapun.
Sejak dulu, nak, ketika kau sedih, bunda bisa merasakannya.
Jadi, jika kau merasa kesedihanmu seakan membuat dunia runtuh, tidak, nak.
I'll stand by you, just hold me and I hug you until you feel secured.
Jika kau merasa tiada yang dapat menolongmu, yakinlah Allah sebagai jawabanmu.
Sayang, bahagiakah dirimu sekarang?
Sebahagia bunda mendengarmu bercerita sambil makan popcorn atau sekedar nonton bareng bersama keluarga di rumah.
Mungkin lebih dari itu, di duniamu saat ini mungkin menawarkan jutaan kebahagiaan yang lain, tapi apakah itu berlangsung lama?
Anakku, carilah kebahagianmu sendiri dengan hal-hal yg bermanfaat karena sesungguhnya Allah sangat tidak menyukai kesia-siaan.
Bunda selalu saaaangat bahagia menanti Hari N, hari dimana hanya ada kita berdua, entah itu di rumah, menyusuri kota yang belum pernah kita singgahi atau sekedar bereksperimen dengan lego-legomu.
Hanya untukmu, ya hanya untukmu bunda lakukan ini, nak.
Karena kau adalah anak bunda yang paling berharga.
Mungkinkah kau sedang bimbang? Memutuskan untuk menuruti kata hatimu atau mendengarkan nasihat bunda?
Apa ini masalah cinta, sayang?
Cinta adalah karunia Allah untuk makhluk-Nya
Jika kau merasakannya itu berarti kau normal, sayang.
Tapi bukan berarti kita mengekspresikannya dengan perwujudan yang melanggar agama.
Jagalah dirimu baik-baik sampai ketika ada yang melamarmu, karena N bagaikan mutiara di tengah lautan, hanya penyelam ahli yang dapat menggapaimu.
Merekalah yang ahli ibadah dan taat
kepada Allah.
Tidak terbayang ya dengan kata "lamaran", kayaknya berasa siti nurbaya, tidak nak, bukan perjodohan yang bunda harapkan.
Tapi itulah takdir Allah, kita tidak tahu apakah yang terjadi esok hari.
Bunda harap jodohmu adalah orang yang taat kepada Allah, sekufu, menyenangkan bila dipandang dan mampu memberi nafkah.
Ada saatnya ketika nanti kau dibawa pergi oleh suamimu kelak, mungkin untaian airmata ini menjadi doa kebahagiaanmu supaya kau bisa mandiri dan mengasuh anak-anakmu sendiri.
N ku, tidak ada yang memintamu menjadi adik, kau terlahir dengan kelebihanmu sendiri.
Kau unik dengan bakatmu sendiri, jadilah diri sendiri dan percaya diri dengan apa yang kau hadapi.
Jika saat ini bunda tak ada disisimu, sayangku, bukan berarti tidak ada malaikat yang menjagamu.
Kau akan ada selamanya di hatiku.
Hiasilah hidup ini dengan selalu menjaga sholatmu dan melantunkan Alquran, sematkan doa kepada ayah bundamu karena engkaulah penolong kami ketika kami di dalam kubur, supaya Allah angkat kami ke dalam surga Nya, agar kita bertemu kelak di Jannah Nya.
Love u as always, my dear!
Notes:
NZK: Pemberian dari Allah yang bersih dan berkilau
Tidak terbayang ya dengan kata "lamaran", kayaknya berasa siti nurbaya, tidak nak, bukan perjodohan yang bunda harapkan.
Tapi itulah takdir Allah, kita tidak tahu apakah yang terjadi esok hari.
Bunda harap jodohmu adalah orang yang taat kepada Allah, sekufu, menyenangkan bila dipandang dan mampu memberi nafkah.
Ada saatnya ketika nanti kau dibawa pergi oleh suamimu kelak, mungkin untaian airmata ini menjadi doa kebahagiaanmu supaya kau bisa mandiri dan mengasuh anak-anakmu sendiri.
N ku, tidak ada yang memintamu menjadi adik, kau terlahir dengan kelebihanmu sendiri.
Kau unik dengan bakatmu sendiri, jadilah diri sendiri dan percaya diri dengan apa yang kau hadapi.
Jika saat ini bunda tak ada disisimu, sayangku, bukan berarti tidak ada malaikat yang menjagamu.
Kau akan ada selamanya di hatiku.
Hiasilah hidup ini dengan selalu menjaga sholatmu dan melantunkan Alquran, sematkan doa kepada ayah bundamu karena engkaulah penolong kami ketika kami di dalam kubur, supaya Allah angkat kami ke dalam surga Nya, agar kita bertemu kelak di Jannah Nya.
Love u as always, my dear!
Notes:
NZK: Pemberian dari Allah yang bersih dan berkilau
A Letter for IVK
By Zeth
1/06/2016 06:42:00 AM //
(cr: wide-wallpapers.net)
A
Letter for IVK
7 Desember 2027
Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh
Dear
V, my lovely child
Alhamdulillah, Barakallahu fii umrik, 17 tahun sudah V terlahir di dunia ini.
Gimana kabar V?
Apakah V bahagia, sedih atau
sedang menghadapi masalah?
Surat ini bunda tulis 2 hari setelah
ulang tahunmu yang ke-5.
Masih segar dalam pikiran bunda
saat V selalu mengucap, “Aku sayang Bunda”.
Di umurmu yang ke-5, V sudah
ikut ayah dan bunda keliling mencari ilmu tapi tidak sedikitpun kata lelah keluar
dari mulutmu.
Karena bunda ingin kita berempat
selalu bersama dalam suka dan duka, walaupun ayah dan bunda bergantian
menjagamu, tapi rasa lelah ini tergantkan oleh senyumanmu, sayang.
Mungkin V sudah seringkali
bercerita tentang sekolah, teman, buku, film dan lain-lain, tapi
ketahuilah Bunda selalu siap
mendengarkan dan tidak bosan menjadi telingamu.
Itulah sebabnya kenapa Allah
menciptakan 2 telinga dan 1 mulut, yaitu untuk lebih banyak mendengar daripada
berbicara.
Apakah saat ini kau sedang bahagia?
Semoga V bahagia memiliki bunda
karena bunda sangat bersyukur memiliki putri yang luar biasa. V kecil
adalah anak yang sabar, anak bunda yang paling tersayang.
Ingat tidak waktu kecil kita sering
nge-date berdua, pergi ke bookfair berdua, berpetualang naik bis berdua atau sekedar makan
donat berdua di mall sambil ketawa-ketiwi.
Hanya berdua? Ya, hanya berdua
saja.
Kebiasaaan ini bunda teruskan
sampai kamu beranjak remaja supaya V tau, V adalah anak bunda yang
paling special, mudah-mudahan V tidak bosan ya nemenin bunda.
Ketika adik kecil lahir, mungkin
V bertanya-tanya, kenapa ada makhluk kecil yang mengambil bundaku?
I
know it’s not easy for you to have sister in your early toddler.
But,
really, you learn how to share, how to behave, how to grow up without feeling
burdened.
Kasih sayang bunda tidak terbagi,
nak, malah bertambah berkali-kali lipat terhadapmu.
Bagaimana tidak, karena V kecil
selalu menolong bunda dalam kesulitan.
Ketika bunda lelah, maka yg selalu
V tanyakan, bunda capek ya? Sini aku pijitin.
Tahukah nak, itu bagaikan oase
dalam padang pasir, hati bunda bagaikan mekar kembali setelah layu.
Kedengarannya
lebay, tapi beneran deh.
Hal itu nanti pun akan V rasakan kalau sudah memiliki buah hati tercinta bersama suami.
Suami? “Masih jauh lah bunda”, itu
katamu.
Tapi kita tidak tau apa takdir
Allah, Jodoh adalah rahasia Ilahi, maka jagalah dirimu sampai nanti calon
suamimu tiba karena kau sangat sangat sangat berharga.
Bunda berharap V memilih
pasangan yg sesuai dengan kriteria Alquran, yaitu taat kepada Allah, sekufu,
menyenangkan bila dipandang dan mampu memberi nafkah.
Kebahagian di dunia hanya
sementara, sedangkan kebahagian di akhirat adalah suatu hal yg kekal.
Jadi, hiasilah hidupmu dengan
amalan wajib & sunnah serta lantunan ayat suci Alquran.
Karena Alquran dan hadits adalah manual book for a lifetime.
V tau apa itu cinta?
Mungkin kau sudah mendengarnya dari
banyak orang atau mungkinkah kau sedang merasakannya? Cinta itu hal yang wajar
tapi sebatas apa kita mengklasifikasikannya sebagai kewajaran?
Apakah dengan menjalin cinta?
Menurut bunda, itu cinta yang salah
kaprah sayang, karena sejatinya cinta tidak melebihi cinta kita kepada Allah.
Jadi, jika bunda tidak
mengijinkanmu menjalin cinta dengan teman, itu bukan karena bunda tidak
memahamimu, tidak sayang.
Pacaran lebih banyak buruknya
daripada baiknya, baik dari hormonnya, efek yang ditimbulkan dan hanya
kebahagiaan semu yang V rasakan.
Mungkin saat ini V merasa sedih
dan kecewa, tapi tidak apa-apa sayang, karena dua hal tersebut diperlukan untuk
melanjutkan hidup menjadi lebih kuat.
Be
stronger, honey! I know you do.
V sayang, saat ini bunda selalu
bertanya-tanya apakah yang akan kamu hadapi di masa yg akan datang.
Apakah mobil yang bisa terbang?
Apakah teknologi sudah tanpa batas merasuki keseharian kita?
Apakah masih ada komunikasi antara orang tua
dan anak?
Apakah agama Islam masih tetap
menjadi sendi-sendi dalam peradaban dunia?
Mungkin di benak bunda selalu tersimpan
pertanyaan apa dan bagaimana lalu bunda berpikir bahwa setiap ada kesulitan
pasti ada kemudahan, setiap ada keburukan pasti
ada pula kebaikan.
Maka dari itu, jangan khawatir
dengan kesulitan karena Allah adalah sebaik-baik penolong.
Jika saat ini kau sedang dalam
kesulitan, yakinlah Allah selalu bersamamu dan menjawab setiap doa hamba-Nya.
V bidadariku, sejak kecil kau
sangat senang bercerita, kecerdasan verbalmu sangat luar biasa, sampai kadang
yang mendongeng menjelang tidur adalah dirimu sayang.
Jika memang ini bakatmu, capailah
cita-citamu sesuai dengan keinginan hatimu, asalkan itu tidak menyimpang dari
ajaran agama Islam.
Apakah kelak engkau menjadi
diplomat, entrepreneur, pakar hukum
internasional, chef, dokter, motivator, penulis, biologist,
fotografer, scientist, penerjemah, counselor ataupun bos tour and travel (ini role play yg paling kamu suka) atau yang
lain-lain, lakukanlah itu dengan segenap hatimu untuk agamamu dan bangsamu.
Ketahuilah, zaman bunda dewasa
dengan zaman ketika kamu dewasa akan sangat jauh berbeda, jadi persiapkanlah
dirimu dengan ilmu setinggi langit dan seluas samudera.
Bacalah pedoman hidup utama yaitu
Alquran dan amalkan!
Isilah kegiatan luangmu dengan
membaca dan isilah ruang dalam kamarmu dengan buku seperti yang selalu bunda
lakukan.
Because
books are the girl’s best friend, right?
Jika saat ini bunda sudah tidak
lagi disampingmu sayang, ketahuilah ribuan doa telah bunda panjatkan
mengiringimu, semoga kelak kau menjadi anak yg sholehah, mewarnai hidupmu dengan
irama Alquran dan sanggup menjelajahi dunia dengan iman, ilmu dan keterampilan.
Jalin silaturahmi dengan adikmu dan
saudara-saudaramu, karena silaturahmi akan memanjangkan rezekimu.
Sampaikan doamu kepadaku dalam
setiap shalatmu karena itulah yang akan melapangkan kubur dan mempermudah Bunda
dalam menyeberangi jembatan shiratal
mustaqim kelak. Insya Allah.
You’re
important, oh, you really are
You’re
the only one of you
The
world is better just because you’re here
You
should know that we love you
(cr:
Barney)
Notes:
IVK:
Hadiah dari Allah yang Mulia, Ramah dan Cantik
1/5/16
The Dream House
By Zeth
1/05/2016 10:47:00 PM //
(cr: lovethispic.com)
Awal
tahun banyak orang berlibur ke tempat-tempat seru, kita malah leyeh-leyeh di
rumah sambil jalan-jalan ke supermarket bahan bangunan. Ada agenda lain yang
bikin kita muter-muter dari satu toko ke toko lain buat survey harga bahan
bangunan yaitu agenda renovasi rumah yang sedang direncanakan oleh saya dan
suami. Mungkin sudah pada tau kalau biaya renovasi enggak bakal habis sedikit,
minimal harus melebihkan sekitar 20% dari total RAB karena yang namanya
membangun ada saja printilan yang tadinya enggak direncanakan kemudian harus
ditambahkan, misalnya perhitungan tukang yang kurang akurat atau keinginan tuan
rumah yang menambah desain awal. Jadi, awal tahun ini kita tabung uangnya
sambil survey bahan bangunan dan perabotannya dengan maksud ingin
memperhitungkan lebih detail sehingga sudah tau perkiraan dana
yang akan kita gunakan supaya enggak membengkak seperti pada saat renovasi
sebelumnya.
Ketika
survey, ternyata harganya sudah jauh naik dari saat kita renovasi pada tahun 2012,
yaiyalah harga bahan bangunan emang selalu naik dari tahun. Saya jadi
berasa dejavu dan ingat serunya perjuangan kita dari 0 demi mendapatkan sebuah
rumah yang sangat jauh dari perkiraan kami karena waktu itu status kami baru
akan menikah. Allah memang Maha pengabul doa, siapa yang bersungguh-sungguh,
maka Allah akan tunjukkan jalan-Nya. Pengen nostalgia sebentar supaya setiap
membaca kisah ini jadi pengingat kami untuk selalu menyukuri nikmat dari-Nya
dan mengambil hikmah dari apa yang telah kami jalani.
Menemukan Rumah Idaman
Berawal
dari tahun 2009, saat itu saya dikenalkan dengan anak dari murid mengaji ayah
saya. Awalnya hanya melalui foto kemudian mereka datang bersama dengan
keluarganya ke rumah dan saya pun dikenalkan melalui ibunya dan ibu saya yang
kebetulan teman mengaji. Selang 5 bulan kemudian, dia melamar saya (setelah
melalui istikharah panjang hahahah...) dan merencanakan pernikahan kami 5 bulan
kemudian karena sulit sekali mencari gedung pernikahan yang kosong untuk kami
gunakan. Pada jeda waktu 5 bulan tersebut sambil mempersiapkan acara untuk
menikah, kami survey rumah, karena kita sependapat bahwa kalau sudah
menikah ya akan lebih enak tinggal di rumah sendiri.
Kami
mulai mendatangi pameran rumah dan ambil brosur di Mall -Mall, kadang
pulang kerja pun suka liat spanduk-spanduk pinggir jalan dan mencatat
lokasinya, pikiran kami harga rumah mahal sekali, apakah kami sanggup
membelinya. Kita juga enggak berkhayal ketinggian dengan harga rumah yang
diluar jangkauan kami, lihat uang di rekening yang menipis karena budget terbagi
antara mau nikah dan pengen punya rumah. Sampai suatu hari kita kepanasan
keliling-keliling naik motor mencari perumahan yang cocok dengan budget,
kita cuma mengikuti jalan dan enggak tau sudah sampai dimana dan nyasar ke
suatu tempat di pelosok. Kita sampai di suatu perumahan yang menurut kita cocok
di hati dan langsung suka walaupun lokasinya berada di pinggir jalan.
Karena
penasaran, kita datang ke marketing
office untuk bertanya lebih jauh dan meminta brosur. Ketika sampai di
rumah, kita membandingkan harga, luas tanah, luas bangunan, spesifikasi
bangunan, lokasi, dan model rumah. Saya dan calon suami sepakat menentukan rumah
pilihan pertama dengan tipe 60/128 dengan denah rumah 2 kamar utama + 1 kamar
pembantu, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga dan dapur, carport dan
taman di depan serta masih ada sisa lahan di belakang yang cukup besar dan
bisa dirombak untuk dijadikan ruangan baru. Akhirnya dengan berbekal tabungan
berdua, tekad yang bulat dan modal nekat, kita putuskan untuk ambil rumah tepat
sebulan setelah lamaran dan 4 bulan sebelum tanggal pernikahan.
Alhamdulillah
semua berjalan lancar baik dari pembayaran cicilan DP, tanda tangan dengan
notaris dan segala tetek bengek proses akad kredit rumah dengan bank. Setelah
proses akad kredit selesai, mulailah kami menyicil untuk KPR dan menunggu 4
bulan selama rumah dibangun karena masih berupa tanah kosong. Akhirnya
pada bulan Maret 2010, rumah kita selesai dibangun bertepatan dengan bulan
pernikahan kami, tepatnya 4 hari setelah pernikahan, kita serah terima kunci
rumah dengan developer dan ini adalah hadiah pernikahan terindah bagi
kami berdua walaupun rumahnya masih dicicil hehehehe.
Menempati Rumah Baru
Setelah
serah terima kunci, kita pun enggak langsung tinggal di rumah baru karena
rumahnya masih kosong melompong hahaha… Membeli perabotan rumah adalah hal lain
yang paling menguras dompet tapi seru dan menyenangkan karena bisa memilih
sendiri sesuai keinginan kita. Kalau orang lain honeymoon, kita malah ke toko furniture cari yang sesuai kantong.
Alhamdulillah Allah SWT beri kemudahan bisa membeli furniture dari amplop
pernikahan dan menutup tembok bagian belakang karena samping rumah masih
kebon.
Kita membuat
perencanaan perabotan apa saja yang paling penting untuk dibeli karena
Alhamdulillah saya langsung diberi amanah oleh Allah SWT setelah menikah. Setiap
bulan kita isi satu persatu perabotan rumah sampai pada kehamilan bulan ketujuh
dan saya sudah merasa tubuh saya cukup kuat untuk pindahan sehingga kami
memutuskan untuk menempati rumah baru. Pengalaman pertama menempati rumah hanya
berdua dengan suami di saat saya sedang hamil merupakan hal yang baru bagi
saya. Saat itu saya masih bekerja dan suami juga sering dinas ke luar sehingga
orangtua suka merasa khawatir jika saya tiba-tiba melahirkan dan tidak ada
orang hehehe... Tapi kami tidak ingin merepotkan orangtua terus menerus,
walaupun kami tau mereka tidak merasa seperti itu sehingga saya berusaha untuk bisa
mandiri
Renovasi Pertama
Waktu
berjalan sampai kehamilan saya yang kedua di akhir tahun 2011, saya dan suami
berencana untuk renovasi kecil-kecilan yaitu merapihkan carport dan taman,
memperbaiki atap bocor, mengecat rumah dan membongkar kamar pembantu. Renovasi
dimulai pada bulan Januari 2012, awal mulanya kita hanya ingin memperbaiki atap
bocor dan mengecat rumah karena sudah berumur 2 tahun. Ternyata berlanjut
pasang atap kanopi untuk carport, pasang conblock dan lain-lain
sehingga budget melebar sampai dua kali lipat. Pengalaman ini yang
membuat kita harus merencanakan dengan matang kalau mau renovasi
kembali.
Merencanakan Renovasi Kedua
Di tahun
2016, kami sedang berencana melakukan renovasi kembali dan agak besar karena
mau menutup halaman belakang, merombak pagar dan halaman depan, ganti atap
serta kusen-kusennya, dan menambah kamar satu lagi. Sebenarnya kamar tidur
sudah ada 2 buah, cukup untuk saya dan anak-anak tidur di kamar masing-masing,
namun jika ada saudara jauh yang datang menginap rasanya tidak enak kalau harus
tidur di kamar anak-anak, oleh sebab itu kita berencana mau menambah kamar yang
ketiga khusus untuk ruang membaca dan bermain anak sekaligus bisa juga
digunakan jika ada orangtua atau saudara yang datang.
Kami sepakat
untuk tidak meminjam bank, karena kami percaya Allah SWT akan mencukupi seperti
halnya pada saat renovasi pertama walaupun harus menabung dulu. Kami sedang
berusaha hijrah dari riba dan inginnya segera melunasi KPR. Alhamdulillah hanya
tinggal cicilan KPR yang belum lunas sehingga setelah renovasi, rencana kita
selanjutnya adalah melunasi cicilan rumah. Bagaimanapun manusia hanya berusaha,
Allah SWT yang menentukan, semoga jalan kami ini di ridhoi Allah SWT.
Renovasi Kedua
Di tahun
2017, setelah menabung sekian lama akhirnya kami memutuskan untuk melakukan
renovasi kedua. Dengan berbekal tabungan, kami memberanikan diri untuk
melakukan pekerjaan secara borongan dengan tukang yang sama pada saat renovasi
pertama kali karena track record nya
bagus dan hasil pekerjaan yang memuaskan. Kami sempat terkejut dengan biaya
yang diajukan karena hampir sama dengan biaya membeli rumah baru kami dahulu. Tapi
kami berfikir renovasi ini kebutuhan bukan hanya keinginan karena kondisi atap
kami yang terbuat dari kayu membuat rayap mudah menggerogoti sehingga akan lebih
berbahaya jika ditunda. Jadi, tips dari saya ketika melakukan renovasi rumah
yaitu:
1. Carilah kontraktor dengan tukang yang berpengalaman
yang sudah diketahui hasil pekerjaannya baik, jujur dan terpercaya. Kita bisa
mencari 2 kandidat tersebut atau lebih untuk perbandingan biaya, tenaga dan
spesifikasi bahan bangunan.
2. Fokus pada bagian darurat
yang ingin direnovasi dan sebaiknya melebihkan budget sebesar 20% dari rencana awal karena ini untuk
mengantisipasi hal-hal yang tidak diprediksi sebelumnya. Sebisa mungkin gambar design rumah sudah matang dan detil agar tidak terjadi bongkar pasang bangunan sehingga pekerjaan bertambah banyak dan banyak bahan yang terbuang.
3. Diskusikan RAB dan gambar design rumah dengan kontraktor secara lengkap dan detil,
sampaikan kebutuhan kita namun sebaiknya kita juga sudah mengetahui paling
tidak sedikit informasi tentang bahan bangunan sehingga bisa bernegosiasi dan ada
alternatif kontraktor lain bisa dipiih ketika tidak ada kesepakatan harga. Bijak-bijaklah dalam menilai kebutuhan dan keinginan kaena RAB bisa membengkak jika ada penambahan biaya yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.
4. Buat masing-masing budget
terpisah untuk pengeluaran bahan bangunan dan pembelian
furniture rumah untuk membuat prioritas mana yang lebih didahulukan. Jika masih bisa menggunakan furniture lama akan lebih meminimalisir biaya dan lakukan riset jika ingin membeli furniture baru untuk mendapatkan harga yang lebih murah namun dengan fungsi yang sama.
5. Sediakan makanan ringan dan minuman untuk para tukang untuk penyemangat mereka bekerja.
5. Sediakan makanan ringan dan minuman untuk para tukang untuk penyemangat mereka bekerja.
6. Buat perjanjian hitam
diatas putih dan tuliskan pekerjaan renovasi yang dilaksanakan sehingga ketika
ada kekurangan atau permasalahan tinggal mengacu ke surat perjanjian.
7. Kita bisa memilih untuk
membeli sendiri bahan bangunan atau mempercayakan kepada kontraktor tergantung dari
kesepakatan awal. Karena saya memakai sistem borongan, otomatis kontraktor yang
membeli seluruh kebutuhan bahan bangunan dengan catatan di awal kesepakatan
kontraktor menjelaskan bahwa bahan bangunan yang dipakai adalah setingkat A dan
keramik setingkat A dan bisa memilih modelnya dari katalog yang diberikan.
8. Sebagai tuan rumah
baiknya mengecek pekerjaan tukang, bisa jadi ada beberapa hal yang ternyata
beda persepsi antara mandor dan tukang, namun juga tidak terlalu sering mengomentari
karena tukang juga manusia, sampaikan dengan baik apabila ada yang kurang
sepaham.
9. Pembayaran yang
dilakukan tepat waktu akan membuat pekerjan juga bisa dilaksanakan dengan baik,
bicarakan dengan kontraktor mengenai metode pembayaran, apakah dibayarkan
berdasarkan proyek yang selesai atau ada ketentuan lainnya.
Saya
tidak ahli di bidang bangunan, jadi tips nya tidak banyak dan mungkin tidak
memberikan informasi memadai, jadi banyak-banyaklah mencari informasi mengenai
spesifikasi dan model yang diingikan. Alhamdulillah pekerjaan berjalan lancar
dan biaya renovasi bisa dibayarkan tanpa harus berhutang, sungguh Allah Maha
Kaya, jadi kalau mau meminta cukup hanya kepada Allah SWT semata. Semoga kami bisa
segera melunasi cicilan KPR juga dan bisa hijrah menuju hidup tanpa riba,
aamiin.
*Updated 2018





















