2/25/16

2/24/16

Seminar Parenting: Anak Yang Sukses Menghadapi Persaingan Dan Stres oleh Elly Risman (Part I)

(gambar diambil dari sini)



                Seminar ini adalah kali pertama saya hadir dalam rangkaian seminar bu Elly Risman lainnya.  Sebelum hadir langsung di seminarnya, saya memang tertarik dengan bahasannya namun karena waktu itu kondisi masih belum bisa meninggalkan anak, jadi saya hanya baca review orang yang hadir dari internet saja. Tertarik banget dengan seminar-seminar Bu Elly karena tema dan isi seminarnya luas, langsung dari pakarnya dan jleb banget. Akhirnya, setelah anak kedua lulus ASI di umur 2 tahun, baru saya mencoba ikut hadir di seminarnya karena rasanya lebih tenang meninggalkan anak bersama ayahnya untuk belajar selama 4 jam. Berangkatlah saya diantar suami dan anak-anak, dan sementara saya belajar, suami lah yang mengasuh anak-anak. Alhamdulillah suami pun mendukung saya untuk menimba ilmu lagi. Simak resume seminarnya walau mungkin ada sebagian yang lupa-lupa ingat karena sudah lebih dari setahun yang lalu hehehe… dan sengaja dibagi menjadi beberapa bagian supaya tidak terlalu panjang.

1/26/16

Book Review: Bulan Terbelah di Langit Amerika

   (gambar diambil dari sini)


SINOPSIS

Buku ini adalah buku kedua Hanum Rais setelah 99 cahaya di Langit Eropa. Kali ini kisah perjalanan Hanum dan Rangga berlanjut di Amerika. Hanum dan Rangga adalah sepasang suami istri yang menetap sementara di Wina, dimana Rangga sedang menyelesaikan beasiswa studi S3 di Austria dan Hanum bekerja di surat kabar Austria, Heute ist Wunderbar. Atasan Hanum bernama Gertrud robinson memberikannya tugas untuk menulis artikel dengan topik “Would the world be better without Islam?”. Secara kebetulan, Rangga yang merupakan asisten dosen juga harus berangkat ke Amerika untuk mengadakan konferensi dan menghadiri pidato Phillipus Brown, salah satu tamu kehormatan konferensi tersebut.
Petualangan di Amerika benar-benar menguji mereka, berputar-putar di New York karena tidak menemukan narasumber yang akan diliput, hilangnya Hanum dan pertemuannya dengan Julia Collins seorang kurator museum. Sejak kejadian runtuhnya menara kembar WTC di amerika, Islamophobia sangat kental terjadi di negara tersebut, dimana perjuangan minoritas penduduknya yang memeluk agama Islam berada dibawah tekanan masyarakatnya yang begitu menghujat Islam. Begitu juga dengan nasib Julia Collins yang mencoba berdamai dengan keadaan di sekelilingnya.

Buku ini juga menceritakan pengalaman mereka bertandang ke tempat-tempat yang ternyata memiliki kaitan dengan fakta dan sejarah Islam di Amerika. Tahukah kita sebagai muslim di Indonesia bahwa Amerika sangat menghargai Nabi Muhammad dan Alquran? Bahwa presiden Amerika terdahulu, Thomas Jefferson yang fasih berbahasa Arab dan memiliki Alquran menuliskan pemikiran-pemikiran yang sejalan dengan nilai Al-Quran, walaupun kita tahu dia bukan muslim. Lalu Colombus yang dalam jurnal pelayarannya, ketika mendekati semenanjung timur Kuba, ada kubah masjid yang indah seperti di negerinya Spanyol dan ada pula yang mengatakan nama Kuba diambil dari bahasa Arab, Al-Qubbah.

    Kemudian Harvard, salah satu pintu gerbang fakultas hukumnya terdapat ukiran inkripsi ayat Alquran, surat An Nisa ayat 135 tentang kehebatan ajaran keadilan. Lalu Nabi Muhammad yang dibuatkan patung di relief pada dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung sebagai patron keadilan di Amerika Serikat. Sebagai pemeluk agama Islam, sangat dilarang menggambarkan nabi dengan bentuk visual, namun sebagaimana pengukirnya yang bukan muslim dan tidak mengerti hal tersebut, mengapa dia mensejajarkan Nabi Muhammad denga tokoh besar sejarah dunia dengan judul “The Great Law Givers on Earth”. Mengapa terdapat nama kota Mecca dan Madina di Amerika Serikat? Dan beberapa fakta-fakta lainnya yang mengaitkan mukjizat nabi Muhammad dengan penelitian terbaru bidang astronomi yang sungguh mencengangkan. Buku ini layak menjadi national best seller dengan fakta-fakta sejarahnya dan kisah fiksinya yang membuat kita terhanyut didalamnya.

REVIEW (SPOILER ALERT!!!)               
        
Saya salut dengan Hanum Rais yang walaupun dia seorang dokter gigi, namun cara penulisan, pendeskripsian tempat, alur cerita dan penokohan yang tepat membuat cerita ini semakin membuat saya terbius masuk kedalamnya. Berbalut kisah fiksi dan fakta sejarah keislaman dari negara yang mayoritas penduduknya bukan Islam, sungguh menyeret saya untuk selalu membuka lembar-demi lembar karena rasa penasaran dan kejutan apalagi yang ditinggalkan oleh warisan budaya dinasti Islam terdahulu. Lalu korban-korban dalam peristiwa 9/11 yang selama ini hanya diberitakan secara sepihak dan timpang, namun Hanum bisa menceritakanya dan melakukan penjabaran peristiwa tersebut dari dua sisi.

Untuk menelisik lebih lanjut, ada beberapa perbedaan dari novel sebelumnya yang menurut saya kurang terasa chemistry-nya atau mungkin hanya pendapat saya pribadi saja ya hehe... Novel kedua ini dibuat dengan 2 sudut pandang yaitu Hanum dan Rangga sehingga seolah-olah melukiskan suasana hati mereka berdua. Terus terang saya agak sedikit terganggu karena Sosok Hanum dan Rangga diceritakan bergantian setiap bab sehingga sedikit membuat cerita ini kurang menggigit karena penokohan Rangga terasa kurang kuat. Kemudian cerita di buku kali ini diselipkan fiksi dimana cerita Hanum yang hilang di tengah kerusuhan demonstrasi di tengah-tengah kota New York dan Azima Husein yang ending-nya bisa bertemu dengan Philippus Brown membuat cerita ini jadi berkesan kurang realistis.

Fakta-fakta sejarah Islam dalam buku ini masih debatable artinya masih jadi perdebatan sampai saat ini kebenarannya, namun Hanum sukses mengangkatnya dan membuat saya terbengong-bengong membaca sambil berkata, “Beneran nih?” dan langsung googling. Hanum dengan piawainya memasukkan unsur kisah fiksi dan fakta sejarah menjadi buku yang membuat wawasan kita terbuka tentang sejarah Islam di Amerika. Namun, sejujurnya saya masih lebih suka karyanya yang pertama, “99 Cahaya di langit Eropa”. Very recommended book, dear!


 
Judul: Bulan Terbelah di Langit Amerika

Penulis: Hanum Salsabilla Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Hal: 344 Halaman


                              (gambar diambil dari sini)

#ODOPfor99Days
#Day14



1/21/16

Book Review: Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra


                Sebenarnya review ini adalah review pertama di grup one week one book. Tapi saya perluas review tersebut karena review sebelumnya lewat hape yang agak susah ngetiknya. 

(gambar diambil dari sini)

                Metode sentra dikembangkan oleh Pamela Phelps di Florida, AS sejak tahun 1970 dan diadopsi oleh drg. Wismiarti Tamin, pendiri sekolah Al-Falah di Jakarta Timur. Kini metode sentra sudah banyak dipakai di sekolah-sekolah di Indonesia, salah satunya adalah penulis buku ini yang mendirikan sekolah gratis untuk dhuafa yang bernama sekolah Batutis Al-Ilmi Bekasi. Metode ini tidak hanya diterapkan di sekolah, bisa juga diterapkan di rumah. Dalam metode sentra, kurikulum tidak diberikan secara klasikal tapi individual disesuaikan tahapan perkembangan masing-masing anak dan dibatasi satu kelas hanya 12 orang anak. Selama proses pembelajaran, guru dilarang melakukan 3 M: tidak boleh melarang, menyuruh, marah/menghukum. Metode ini membangun kecerdasan jamak secara bersamaan dan berimbang: 
1. Kecerdasan logika-matematika
2. Kecerdasan bahasa
3. Kecerdasan tubuh (kinestetik)
4. Kecerdasan ruang (spasial)
5. Kecerdasan kemandirian (intrapersonal)
6. Kecerdasan kepedulian sosial (interpersonal)
7. Kecerdasan musik
8. Kecerdasan natural


(gambar diambil dari sini)


Ada tujuh sentra yang disediakan agar anak bisa bermain gembira dan mendapatkan banyak pilihan pekerjaan: 
1. Sentra persiapan: (membangun kemampuan keaksaraan)
2. Sentra Balok (merangsang kemampuan konstruksi, prediksi, presisi, akurasi, geometri, matematika)
3. Sentra seni (membangun kreatifitas, sensorimotor, kerjasama)
4. Sentra bahan alam (membangun sensorimotor, fisika sederhana, pemahaman akan batasan dan sebab-akibat)
5. Sentra main peran besar
6. Sentra main peran kecil (membangun imajinasi, daya hidup, adaptasi, kemandirian, kebahasaan, kepemimpinan)
7. Sentra Imtak (iman dan takwa)



(gambar ini diambil dari sini dan sini)

                Metode sentra terbukti sangat efektif digunakan untuk membangun karakter dan kecerdasan anak sejak bayi hingga SD kelas tiga. Itulah fase awal dalam kehidupan anak manusia yang oleh para ahli pendidikan disebut dengan “usia emas” Itulah suatu rangkaian waktu yang juga disebut sebagai jendela kesempatan yang akan tertutup sesudah waktu itu berlalu. Itulah masa yang sangat menentukan kualitas dan masa depan anak: sukses atau gagal, jadi ahli surga atau neraka.

                Buku ini lengkap berisi tentang bagaimana penerapan metode sentra baik di rumah atau disekolah, mulai dari tahap-tahap perkembangan anak yang berasal dari teori Piaget dan Erikson, bagaimana membangun kecerdasan jamak anak, bagaimana membuat sentra, menyediakan bahan-bahannya dan contoh penerapannya.  

“Lepaskanlah anak-anak panah itu dari busurmu, biarkan mereka melesat ke arah kiblat. Maka, selesailah tugasmu. Tidak lebih, tidak kurang. Jika lebih mereka akan jadi sumber fitnah atau berhala. Jika kurang, anak bisa jadi bencana, bagi keluarga dan masyarakat. Maka, jangan ambil apa yang bukan bagianmu, yang sudah jadi ketetapan Tuhan. Maka, jangan tinggalkan apa yang menjadi tugasmu; beranak pinak, melanjutkan fitrah khalifah dan mensyukuri nikmat Allah.”





Judul: Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra
Penulis: Yudhistira & Siska Y. Massardi
Penerbit: Media Pustaka Sentra, 2012
Hal: 354 halaman

(gambar diambil dari sini)









#ODOPfor99Days
#Day13

1/20/16

One Week One Book


(gambar diambil dari sini)


                Tahun ini banyak sekali list buku yang ingin dibaca, mulai dari novel, buku parenting, buku motivasi dan buku agama. Sebenarnya pengen juga baca buku ulang yang sudah lama karena ada beberapa buku yang layak untuk dibaca ulang, tapi nggak mau muluk-muluk dulu deh, selesain dulu list buku yang baru dan belum dibaca, itu juga belum tentu selesai dibaca dalam setahun. Belum lagi acara yang ditunggu-tunggu, islamic bookfair bakal segera hadir di bulan Februari. Semoga saya nggak kalap tahun ini hehe…

Namanya juga emak-emak ada saja kendalanya mau baca, mulai dari nggak sempet karena waktu yang kurang, ketiduran, masih banyak kerjaan lain yang numpuk, nemenin anak main, terus kapan dong bacanya? Ini sih sebenarnya alasan sendiri yang dibuat-buat aja, kalau kita disiplin menyisihkan waktu minimal 1 jam aja setiap hari, Insya Allah itu buku kelar seminggu hehe... tapi karena berbagai macam kegiatan nggak jelas yang malah lebih banyak durasinya dibanding produktifnya, ujung-ujungnya satu buku bisa sampai seminggu lebih bahkan sebulan. Padahal di tahun 2016 ini salah satu resolusi saya adalah one week one book, satu minggu satu buku plus resume. Ide ini adalah gagasan iseng teman satu komunitas yang juga suka baca buku. Tapi ternyata konsistensi pelaksanaannya merupakan hal yang masih jadi perjuangan banget buat saya. Bulan Januari 2016 ini, saya masih berkutat dengan novel Khadijah nya Sibel Eraslan.

Sejak bulan November sudah tercatat 6 buku yang saya review di grup one week one book tapii… itu semua novel karena tujuan saya ingin menamatkan semua novel-novel di tahun 2015, untuk tahun 2016 mau mulai membaca buku-buku parenting lagi karena selama tahun 2015 saya jarang banget baca buku agama, motivasi dan parenting. Di tahun 2015, saya menimba ilmu dengan banyak ikut seminar dan mengumpulkan bahan home education sehingga jarang banget baca dalam bentuk buku, malah kebanyakan baca artikel di internet. Seringnya juga nemenin anak baca buku karena anak saya sekali makan buku bisa 5 buku dalam sehari bahkan lebih, tapi masih dibacain hehe…

Kemarin-kemarin kan saya udah janji review seminar, sekarang mau mulai review buku juga. Walau nunggu waktu yang tepat, tapi niat saya untuk berbagi pasti ada hanya saja waktu menyesuaikan hehe… Doakan saja mudah-mudahan saya sehat terus dan anak-anak juga, karena dengan begitu saya jadi lebih mudah menulis jika kondisi saya dan keluarga sehat jiwa dan raga.  Aamiin…!!!


(gambar diambil dari sini)


#ODOPfor99Days
#Day12




This entry was posted in

With or Without TV



(gambar diambil dari sini)


                Sudah setahun lebih kita menjalankan “no TV at home. Emang nggak berasa tau-tau kita udah menjalaninya cukup lama. Susah? Nggak juga. Malah banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari situ. Bagi yang nggak terbiasa mungkin akan merasakan, duh kayak orang dalam hutan aja nih nggak tau berita apa-apa. Lah kan ada sumber informasi lain contohnya internet dan koran. Nggak ada tv bukan berarti nggak ada internet, teknologi tetap kita pakai dalam kehidupan sehari-hari, kalo nggak gimana saya dapat bahan home education buat anak-anak saya hehehe… Maksudnya no TV disini adalah program TV yang buat kita pantengin TV terus sehingga bikin kita terlena males beranjak. Kalau internet sih saya memang pake wifi di rumah, tapi anak-anak nggak bisa pakai soalnya mereka nggak punya gadget dan wifi pun berpassword. Jatah berlayar anak-anak pun hanya 30 menit (walau sebenarnya idealnya umur 3-5 tahun jatah layarnya hanya 10 menit) dan itu pun habis tidur siang dan mandi, kalau mereka nggak jalanin itu, ya nggak dapet jatah nonton DVD atau main di tablet.

                Hikmah yang bisa didapat dari nggak nonton tv itu banyak banget loh. Mungkin bisa saya jabarkan dalam hal-hal berikut ini:

1.       Lebih banyak waktu produktif yang bisa digunakan misalnya baca buku, nulis blog kayak gini, browse kegiatan-kegiatan anak atau nemenin anak-anak main. Sejak saya jarang nonton TV terus terang saya jadi lebih bisa manage waktu dengan baik karena waktu produktif yang bisa kita gunakan itu kadang-kadang bisa hilang kalau kita awalnya iseng nonton tv, setelah itu berganti acara baru yang juga seru, berita seleb yang nggak habis-habis dan berita politik yang nggak tuntas. Melek informasi itu perlu, hanya bagaimana kita mengatur waktu kita supaya nggak terlena dengan acara yang ditawarkan TV, apalagi kalau yang kita tonton malah bikin kita dosa.

2.       Anak- anak sedikit sekali kemungkinan terpapar hal-hal yang bisa bikin mereka ngikutin gaya yang tidak sesuai dengan usianya. Sudah lumrah banget deh acara TV sangat memperlihatkan gaya hidup hedonis, kata-kata tidak sopan atau bahkan gaya yang ngikutin tren luar negeri. Kebayang kalau saya ingin anak-anak saya jadi anak sholehah, menjalankan perintah agama, berkata baik tapi dia masih suka nonton TV yang acaranya kaya gitu, kira-kira bakal kadi anak yang bagaimana dia nantinya?

3.       Hubungan dengan suami semakin hangat. Ya tentu karena banyak sekali momen curhat kita berdua sekarang dan saling ngeluarin unek-unek. Jadi, bisa ngeluarin sampah emosi tiap hari yang tentunya penting bagi saya seorang istri yang bersama anak 24 jam setiap hari. Ini sangat disarankan oleh psikolog. Emosi itu ibarat air yang mengalir, dia akan mencari jalan atau celah sedikit pun yang apabila tidak ditampung akan membuat tekanan yang besar dan akan bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Itulah kenapa kita harus membuang sampah emosi kita ke tempat yang tepat.

4.       Bayaran listrik lebih hemat. Yah walaupun nggak berkurang banyak banget tagihannya tapi tetep bikin pemakaian listrik berkurang.

5.       Bisa mengatur waktu sendiri kapan saatnya ingin nonton dan nggak penasaran dan galau gara-gara sinetron. Ya saya masih suka nonton drama korea dan jepang. Dengan nggak nonton TV, saya nggak perlu galau nungguin kelanjutannya, tinggal beli DVD nya yang sudah tamat, cari waktu yang tepat (biasanya kalau saya setelah anak-anak tertidur) dan saya bisa manage waktu sendiri sehari nonton berapa episode, nggak perlu nunggu iklan dan nggak perlu dengerin dubbing. Jadi, nggak perlu juga kayak emak-emak nungguin sinetron yang tayang setiap jam sekian, terus bilang ke anaknya, jangan ganggu mamah ya klo lagi nonton film X. Berhubung kita hanya berempat serumah, jadi kalau saya nonton pas mereka melek ya pastinya mereka terpapar layar dong, makanya saya hanya nonton DVD setelah mereka pules.

6.       Bikin tidur lebih nyenyak. Kadang acara TV menghadirkan suguhan yang seru dan kita jadi lalai, nggak sadar tiba-tiba waktu sudah menunjukkan tengah malam. Kadang TV memang jadi sarana hiburan bagi keluarga yang merasa suntuk tinggal di kota. Kalau saya dan suami sih hiburannya kita beli DVD judul film terbaru dan kita nonton berduaan di rumah, sudah jelas durasi waktunya dan kita bisa pause atau cepetin dan mundurin hehe..

7.       Tidak perlu TV berbayar karena sebenarnya sama-sama bikin kita terlena juga. Channel TV berbayar yang jumlahnya ratusan, gimana nggak bikin kita pindah tempat duduk? Apalagi kalau di negara aslinya punya perbedaan waktu yang signifikan. Kalau mau tau update perkembangan berita terkini atau sekedar hiburan nonton acara yang sudah tayang, tonton aja youtube dan surfing internet, pasti banyak banget. Tapi sekali lagi, bijak-bijaklah menggunakan teknologi karena banyak iklan yang tidak pantas dan juga tidak semua yang diberitakan tersebut juga benar. Jadi, bacalah minimal 20 berita yang mengabarkan hal yang sama sebelum percaya bahwa berita itu benar.        

                Bagi keluarga kami, manfaat yang didapat lebih banyak apabila kami tidak menonton acara TV dalam dan luar negeri. Dan sejak digital detoks ini kami lakukan, walaupun hanya secuil dengan tidak menonton TV, saya merasa kehangatan keluarga semakin bertambah, walaupun tadinya nggak dingin juga hehe… Ingat tujuan pengasuhan kita apa, tentukan masing-masing tujuan keluarga kita. Jangan hanya karena ikut-ikutan dan terus akhirnya kehilangan motivasi diri tentang apa yang ingin dicapai. Masing-masing keluarga memiliki prinsip yang berbeda dan jangan hanya mengikuti tren yang berlaku, itu sama saja mengasuh anak tanpa adanya ilmu karena yang akan terjadi adalah kita gampang goyah dengan godaan di sekeliling kita.  Yuk, mulai berubah ke arah yang lebih baik! Jika yakin bisa, Insya Allah akan ada jalan menuju kesana.

#ODOPfor99Days
#Day11

1/15/16

Ketika Semua Tertidur dan Terbangun

(gambar diambil dari sini)


Ketika semua tertidur, mungkin bunda bisa beristirahat sejenak
Ketika semua tertidur, mungkin inilah waktu yang tepat untuk bunda berbenah
Ketika semua tertidur, mungkin bunda bisa menuliskan apa yang tertuang dalam fikiran
Ketika semua tertidur, mungkin bunda bisa menyiapkan baha-bahan yang akan dimainkan esok hari
Ketika semua tertidur, mungkin bunda bisa memasak walaupun kadang sore sudah habis
Ketika semua tertidur, mungkin bunda bisa merenungkan sejenak makna hidup dalam sujud dan tilawahku

Tapi ketahuilah…
Ketika semua terbangun, bunda merasakan kebahagiaan tawa dan teriakan
Ketika semua terbangun, bunda bisa membuat mainan yang lucu bersama kalian
Ketika semua terbangun, bunda bisa membacakan buku-buku seru untuk kalian
Ketika semua bangun, dimulailah hari untuk menjadi lebih baik dan lebih sabar
Ketika arus hidup berputar antara hidup dan mati sesaat, yakinlah semua telah diatur, teruslah berikhtiar dan berdoa
Bersyukurlah karena belum tentu esok hari, akan bertemu kembali

#ODOPfor99Days
#Day9
This entry was posted in

Buku dan Mainan Anak


(gambar diambil dari sini)


                Salah satu alat perang saya di rumah utuk membuat anak-anak anteng sedikit adalah buku dan mainan. It really takes their times and make her busy for a while. A while? Yes, only for a while. Kalau diingat-ingat, satu mainan hanya bisa bertahan paling lama 10-15 menit. Abis itu ya dia ingin beralih ke mainan yang lain. Apalagi kalau mainannya banyak macamnya. Hehe…merasakan hal yang sama? Gimana dengan buku? Nah kalau ini agak lebih lama, kalau bukunya sangat menarik, mereka bisa lebih lama berkutat dengan buku tersebut. Jadi, saya lebih suka membelikan buku daripada mainan. Tetapi kalau buku, mereka suka minta dibacain? Ya bagus dong, berarti mereka sudah penasaran dengan yang namanya buku dan isinya walau memang tidak menjamin si anak akan betah berlama-lama tapi kita bisa masukkan informasi sebanyak-banyaknya melalui buku.

Informasi tentang akhlak dan perilaku, pengetahuan, adab-adab, dan banyak hal yang kalau kita mau rajin carinya, semua tersedia di buku. Jika mainan bisa menstimulasi syaraf sensorik dan motoriknya, sedangkan buku merangsang imajinasinya. Bayangkan berapa juta informasi bisa terserap melalui keduanya. Itulah sebabnya saya pilih-pilih kalau mau membeli mainan dan buku karena banyak sekali bermacam-macam mainan dan buku yang ditawarkan oleh peberbit dan produsen mainan. Walau kadang saya suka kewalahan membacakan buku untuk anak-anak karena jumlahnya yang tidak sedikit, saya tetap menyempatkan waktu paling tidak membacakan 5 buku dalam sehari.

Kalau menurut sharing dengan grup parenting yang saya suka ikuti, rentang konsentrasi anak memang hanya seumur anak tersebut +1. Jadi misal anak tersebut umur 5 tahun, maka rentang konsentrasi anak hanya 6 menit, jadi kalau ada ibu-ibu yang bilang, “ Aduh, anak saya sering tidak fokus kalau mengerjakan sesuatu, sebentar-sebentar main ini terus loncat lagi ke yang itu.” Coba di perhatikan dulu berapa lama dia sudah melakukan hal tersebut, bisa jadi dia memang sudah kelamaan berkutat dengan permainan yang sama.

Wajar saja anak merasa bosan, jadi memang orangtuanya lah yang harus menyiapkan jenis kegiatan dan permainan yang bergantian setiap waktu. Sudah membuat daily activities untuk anak? Saya sudah sih, tapi kadang dalam prakteknya tetap saja tidak bisa saklek banget. Ada keringanan yang saya berikan kepada mereka, karena memang waktunya mereka masih bermain. Main yang terarah sih maunya, makanya seperti yang sebelumnya pernah saya post tentang lesson plan ini cukup membuat saya jungkir balik dan begadang. So, ready for your kid’s daily activties?

#ODOPfor99Days
#Day8
#Day8

1/14/16

It's OK Not To Share...




         Salah satu masalah yang dipusingkan emak-emak adalah masalah sharing. Gimana tidak pusing, kalau setiap anak dibawa ke tempat bermain, sekolah, kopdar, atau hanya dirumah, anak tidak lepas dari masalah sharing atau berbagi baik dengan adiknya atau temannya. Ngomongnya gampang tapi prakteknya susah, hehe,, itulah parenting, makanya kita dituntut untuk terus belajar supaya kita bisa mempraktekannya sendiri dan konsisten serta dari sumber yang jelas kebenarannya. Saya bukan ahli parenting atau psikolog, jadi saya cerita dari sisi anak saya saja. Berhubung umur mereka dekat sekali hanya terpaut jarak 1,5 tahun jadi mereka sudah seperti teman saja, main bareng, cerita bareng, sedikit berkelahi tapi sebentar kemudian baikan lagi.

          Mungkin waktu mereka kecil saya merasa kerepotan sekali karena saya menjalani tandem nursing selama 6 bulan, waktu itu V masih berusia 1,6 tahun, masih ASI dan harus rela berbagi perhatian dengan adiknya, N. Memang sebaiknya jika adik baru telah lahir, maka ASI sepenuhnya hak adiknya tapi saya berfikir saya ingin menyempurnakan ASI anak saya hingga 2 tahun jadilah saya lanjutkan. Lalu saya juga ingin supaya anak pertama tidak kehilangan bonding dengan saya, maka ide tandem nursing bisa jadi solusi buat saya yang waktu itu masih bekerja. Jadi hal pertama yang harus V sharing adalah perhatian bundanya. Sedih ya kalau bayangin anak umur 1,6 tahun sudah harus berbagi dengan adiknya. Tapi V ini sungguh dengan luar biasa adalah anak bunda yang penurut, kalau diingat-ingat saya sering brebes milih. Ketika saya bilang, bergantian ya (menyusui) dengan adik, dia dengan sabar menunggu. Bukan karena mau, tapi mungkin karena tidak ada pilihan lagi atau terpaksa. Makanya tidak disarankan untuk memiliki anak kurang dari 2 tahun, malah kalau dari program KB seharusnya jarak 5 tahun, jadi tidak ada 2 balita dalam satu rumah.




          Setelah lewat masalah menyusui, berlanjut ke masalah mainan. Nah, ini juga bukan masalah baru untuk keluarga yang memiliki anak lebih dari satu. Kalau menurut yang telah saya pelajari, berbagi itu harus diajarkan secara menyenangkan, karena anak yang belajar sharing dengan terpaksa akan tumbuh mindset bahwa berbagi itu tidak menyenangkan bagi si anak. Jleb banget ya! Setelah awal-awal harus terpaksa berbagi masalah menyusui, sekarang harus berbagi mainan. Sebenarnya menurut salah satu grup parenting yang saya ikuti dan literatur yang saya baca, dijelaskan bahwa anak dibawah usia 5 tahun belum mengenal konsep abstrak, sharing itu abstrak. Mereka bisa melakukannya karena dilatih. Nah melatihnya ini yang bikin kita kayak roller coaster, naik turun emosinya. Disitu juga disebutkan bahwa, kita tidak boleh memaksa anak untuk memberikan mainannya kepada anak yang belakangan minta mainan tersebut. Kenapa? Karena selain melatih berbagi, kita sedang melatih mereka mempertahankan hak milik juga. 

            Bayangkan kalau setiap ada yang meminta, lalu mereka disuruh kasih, lama-lama akan timbul mindset di diri anak kita bahwa dirinya tidak berharga dan saya tidak perlu mempertahankan apa yang saya punya. Ketika mereka besar nanti, rasa memiliki ini harus dipunyai, misal rasa memiliki atau mempertahankan terhadap suami atau istri tapi tentunya bukan rasa memiliki yang berlebihan. 

         Jadi, ketika ada anak yang meminta mainan yang sudah duluan dipegang anak kita, cukup bilang, “Tunggu ya sampai selesai, nanti kalau sudah selesai mainannya akan dikasih sama si A”, alihkan anak B dengan mainan yang lain. Perlu juga kita bilang ke anak A, “Nanti kalau sudah selesai, boleh dipinjam ya mainannya?”. Sekali lagi ini tidak cukup sekali, mesti latihan dan belum tentu anak B juga menurut untuk main yang lain dan biasanya anak A bilang, aku belum selesai mainannya, hahaha… Disini letak tantangannya, biasanya ortu yang sudah lama melatih anaknya untuk menunggu anak lain yang pegang mainan sampai selesai, anak itu tidak akan langsung merebut walau mungkin masih argue ya, tapi ini juga tidak jadi jaminan anak itu akan langsung kasih loh. Insya allah lama-kelamaan V dan N sedang dalam proses dan sekarang sudah tau makna “tunggu sampai selesai”.  Kadang saya tambahkan, “Bilang pinjam dengan baik-baik ya!” soalnya kadang mereka kesel karena kelamaan dan akhirnya sambil marah ngomongnya.

           Lalu bagaimana dengan barang/mainan yang memang milik anak kita tapi dipegang duluan oleh anak lain? Pertama jika memang ada mainan/barang kesayangan anak kita yang tidak mau dipegang anak lain, pisahkan dan simpan. That’s it! Daripada ribut memisahkan anak bertengkar karena tidak mau pinjamin, ya cukup simpan saja, tanyakan mana yang mau dimainkan bersama teman-teman. Selanjutnya, jika mainan yang sudah disepakati untuk main bersama berarti akan menjadi milik anak yang memegang duluan bukan milik anak yang membelinya, kenapa? Karena anak belum paham konsep hak milik, mereka berpikir semua adalah miliknya. Ingat anak dibawah 5 tahun belum mengenal konsep abstrak, hak milik itu abstrak. Kalau si anak tersebut merebut dari tangan anak lain, maka hak milik barang akan jatuh kepada anak yang memegang lebih dulu, itu aturannya.

             Cara memberitahu supaya anak tidak merebut ataupun mau berbagi sebaiknya adalah ketika si anak santai dan bukan pada saat kejadian rebutan berlangsung, misal melalui cerita sebelum tidur atau ketika anak sedang bahagia karena saat itulah otak anak menyerap lebih banyak. Jadi bukan dengan paksaan menyuruh mereka pinjami atau malah menyebut anak kita pelit. Please, jangan melabel anak kita dengan kata-kata yang akan menjadikan kepercayaan dirinya rendah. Jadikan anak kita bahagia dalam berbagi sehingga ketika dia besar dia akan merasa bahwa berbagi dengan orang lain adalah suatu hal yang menyenangkan.  

#ODOPfor99Days
#Day7