3/29/16
“Yang
penting bukan apa yang aku tau melainkan apa yang aku lakukan dari apa yang aku
tau”
Ilmu ini sebenarnya sudah didapat
setahun yang lalu (maaf ya blog saya isinya kudet banget *ngaku*) waktu
pelatihan di Rumah Parenting Bekasi di Jatibening. Hanya saja seiring
berjalannya waktu mempraktekkan sesuatu itu sangat tidak mudah, beda dengan
teorinya. Nah, karena dulu pas menghadiri
seminar dan pelatihan hanya ngumpulin hands
out and dicatet hal-hal yang penting tapi enggak ditulis di blog lalu
khawatir hilang dan lupa, alhasil sekarang baru deh ditulis disini. Hihi..
Itung-itung nanti jadi ilmu buat generasi selanjutnya. Khawatirnya kalau berupa
hands out aja maknanya suka engga
jelas dan ujung-ujungnya salah persepsi.
3/16/16
Seminar Parenting: Meningkatkan Percaya Diri Anak oleh Elly Risman
Apa
itu percaya diri? Percaya diri adalah penilaian dan keyakinan seseorang tentang
apa yang mampu dan yang bisa dia lakukan. Jadi, penilaian ini berasal dari diri sendiri
bukan penilaian dari orang lain. Kita sebagai orangtua harus bercermin kepada
diri sendiri, apakah kita sudah percaya terhadap diri kita sendiri? Karena
bagaimana bisa mengajarkan anak percaya diri sedangkan kita sendiri tidak
percaya diri. Jadi, sebagai orangtua kita harus SELESAIKAN URUSAN DENGAN DIRI
SENDIRI.
2/25/16
Seminar Parenting: Anak Yang Sukses Menghadapi Persaingan Dan Stres oleh Elly Risman (Part III)
Setelah
sebelumnya membahas sumber persaingan dan stres, part ini membahas tentang
stres dan cara mengatasinya.
2/24/16
Seminar Parenting: Anak Yang Sukses Menghadapi Persaingan Dan Stres oleh Elly Risman (Part II)
(gambar diambil dari sini)
Setelah
sebelumnya membahas sumber persaingan dan stres point 1-3, part ini membahas
point selanjutnya dan bagaimana langkah-langkah mengatasi persaingan.
Seminar Parenting: Anak Yang Sukses Menghadapi Persaingan Dan Stres oleh Elly Risman (Part I)
(gambar diambil dari sini)
Seminar
ini adalah kali pertama saya hadir dalam rangkaian seminar bu Elly Risman
lainnya. Sebelum hadir langsung di
seminarnya, saya memang tertarik dengan bahasannya namun karena waktu itu
kondisi masih belum bisa meninggalkan anak, jadi saya hanya baca review orang yang hadir dari internet
saja. Tertarik banget dengan seminar-seminar Bu Elly karena tema dan isi
seminarnya luas, langsung dari pakarnya dan jleb banget. Akhirnya,
setelah anak kedua lulus ASI di umur 2 tahun, baru saya mencoba ikut hadir di
seminarnya karena rasanya lebih tenang meninggalkan anak bersama ayahnya untuk
belajar selama 4 jam. Berangkatlah saya diantar suami dan anak-anak, dan
sementara saya belajar, suami lah yang mengasuh anak-anak. Alhamdulillah suami
pun mendukung saya untuk menimba ilmu lagi. Simak resume seminarnya walau
mungkin ada sebagian yang lupa-lupa ingat karena sudah lebih dari setahun yang
lalu hehehe… dan sengaja dibagi menjadi beberapa bagian supaya tidak terlalu
panjang.
1/26/16
Book Review: Bulan Terbelah di Langit Amerika
SINOPSIS
Buku
ini adalah buku kedua Hanum Rais setelah 99 cahaya di Langit Eropa. Kali ini
kisah perjalanan Hanum dan Rangga berlanjut di Amerika. Hanum dan Rangga adalah
sepasang suami istri yang menetap sementara di Wina, dimana Rangga sedang
menyelesaikan beasiswa studi S3 di Austria dan Hanum bekerja di surat kabar
Austria, Heute ist Wunderbar. Atasan
Hanum bernama Gertrud robinson memberikannya tugas untuk menulis artikel dengan
topik “Would the world be better without
Islam?”. Secara kebetulan, Rangga yang merupakan asisten dosen juga harus
berangkat ke Amerika untuk mengadakan konferensi dan menghadiri pidato
Phillipus Brown, salah satu tamu kehormatan konferensi tersebut.
Petualangan
di Amerika benar-benar menguji mereka, berputar-putar di New York karena tidak
menemukan narasumber yang akan diliput, hilangnya Hanum dan pertemuannya dengan
Julia Collins seorang kurator museum. Sejak kejadian runtuhnya menara kembar
WTC di amerika, Islamophobia sangat
kental terjadi di negara tersebut, dimana perjuangan minoritas penduduknya yang
memeluk agama Islam berada dibawah tekanan masyarakatnya yang begitu menghujat
Islam. Begitu juga dengan nasib Julia Collins yang mencoba berdamai dengan
keadaan di sekelilingnya.
Buku
ini juga menceritakan pengalaman mereka bertandang ke tempat-tempat yang
ternyata memiliki kaitan dengan fakta dan sejarah Islam di Amerika. Tahukah
kita sebagai muslim di Indonesia bahwa Amerika sangat menghargai Nabi Muhammad
dan Alquran? Bahwa presiden Amerika terdahulu, Thomas Jefferson yang fasih
berbahasa Arab dan memiliki Alquran menuliskan pemikiran-pemikiran yang sejalan
dengan nilai Al-Quran, walaupun kita tahu dia bukan muslim. Lalu Colombus yang
dalam jurnal pelayarannya, ketika mendekati semenanjung timur Kuba, ada kubah
masjid yang indah seperti di negerinya Spanyol dan ada pula yang mengatakan
nama Kuba diambil dari bahasa Arab, Al-Qubbah.
Kemudian
Harvard, salah satu pintu gerbang fakultas hukumnya terdapat ukiran inkripsi
ayat Alquran, surat An Nisa ayat 135 tentang kehebatan ajaran keadilan. Lalu
Nabi Muhammad yang dibuatkan patung di relief pada dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung sebagai patron keadilan di
Amerika Serikat. Sebagai pemeluk agama Islam, sangat dilarang menggambarkan
nabi dengan bentuk visual, namun sebagaimana pengukirnya yang bukan muslim dan
tidak mengerti hal tersebut, mengapa dia mensejajarkan Nabi Muhammad denga
tokoh besar sejarah dunia dengan judul “The
Great Law Givers on Earth”. Mengapa terdapat nama kota Mecca dan Madina di
Amerika Serikat? Dan beberapa fakta-fakta lainnya yang mengaitkan mukjizat nabi
Muhammad dengan penelitian terbaru bidang astronomi yang sungguh mencengangkan.
Buku ini layak menjadi national best
seller dengan fakta-fakta sejarahnya dan kisah fiksinya yang membuat kita
terhanyut didalamnya.
REVIEW (SPOILER
ALERT!!!)
Saya
salut dengan Hanum Rais yang walaupun dia seorang dokter gigi, namun cara
penulisan, pendeskripsian tempat, alur cerita dan penokohan yang tepat membuat
cerita ini semakin membuat saya terbius masuk kedalamnya. Berbalut kisah fiksi
dan fakta sejarah keislaman dari negara yang mayoritas penduduknya bukan Islam,
sungguh menyeret saya untuk selalu membuka lembar-demi lembar karena rasa penasaran
dan kejutan apalagi yang ditinggalkan oleh warisan budaya dinasti Islam
terdahulu. Lalu korban-korban dalam peristiwa 9/11 yang selama ini hanya
diberitakan secara sepihak dan timpang, namun Hanum bisa menceritakanya dan
melakukan penjabaran peristiwa tersebut dari dua sisi.
Untuk
menelisik lebih lanjut, ada beberapa perbedaan dari novel sebelumnya yang
menurut saya kurang terasa chemistry-nya
atau mungkin hanya pendapat saya pribadi saja ya hehe... Novel kedua ini dibuat
dengan 2 sudut pandang yaitu Hanum dan Rangga sehingga seolah-olah melukiskan
suasana hati mereka berdua. Terus terang saya agak sedikit terganggu karena Sosok
Hanum dan Rangga diceritakan bergantian setiap bab sehingga sedikit membuat
cerita ini kurang menggigit karena penokohan Rangga terasa kurang kuat. Kemudian
cerita di buku kali ini diselipkan fiksi dimana cerita Hanum yang hilang di
tengah kerusuhan demonstrasi di tengah-tengah kota New York dan Azima Husein
yang ending-nya bisa bertemu dengan
Philippus Brown membuat cerita ini jadi berkesan kurang realistis.
Fakta-fakta
sejarah Islam dalam buku ini masih debatable
artinya masih jadi perdebatan sampai saat ini kebenarannya, namun Hanum sukses
mengangkatnya dan membuat saya terbengong-bengong membaca sambil berkata,
“Beneran nih?” dan langsung googling.
Hanum dengan piawainya memasukkan unsur kisah fiksi dan fakta sejarah menjadi
buku yang membuat wawasan kita terbuka tentang sejarah Islam di Amerika. Namun,
sejujurnya saya masih lebih suka karyanya yang pertama, “99 Cahaya di langit
Eropa”. Very recommended book, dear!
Judul: Bulan Terbelah di Langit
Amerika
Penulis: Hanum Salsabilla Rais dan
Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Hal: 344 Halaman
(gambar diambil dari sini)
#ODOPfor99Days
#Day14
1/21/16
Book Review: Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra
Sebenarnya
review ini adalah review pertama di grup one week one book. Tapi saya perluas
review tersebut karena review sebelumnya lewat hape yang agak susah ngetiknya.
(gambar diambil dari sini)
Metode sentra dikembangkan oleh
Pamela Phelps di Florida, AS sejak tahun 1970 dan diadopsi oleh drg. Wismiarti
Tamin, pendiri sekolah Al-Falah di Jakarta Timur. Kini metode sentra sudah
banyak dipakai di sekolah-sekolah di Indonesia, salah satunya adalah penulis
buku ini yang mendirikan sekolah gratis untuk dhuafa yang bernama sekolah
Batutis Al-Ilmi Bekasi. Metode ini tidak hanya diterapkan di sekolah,
bisa juga diterapkan di rumah. Dalam metode sentra, kurikulum tidak diberikan secara
klasikal tapi individual disesuaikan tahapan perkembangan masing-masing anak
dan dibatasi satu kelas hanya 12 orang anak. Selama proses pembelajaran, guru
dilarang melakukan 3 M: tidak boleh melarang, menyuruh, marah/menghukum. Metode
ini membangun kecerdasan jamak secara bersamaan dan berimbang:
1.
Kecerdasan logika-matematika
2.
Kecerdasan bahasa
3.
Kecerdasan tubuh (kinestetik)
4.
Kecerdasan ruang (spasial)
5.
Kecerdasan kemandirian (intrapersonal)
6.
Kecerdasan kepedulian sosial (interpersonal)
7.
Kecerdasan musik
8.
Kecerdasan natural
(gambar diambil dari sini)
Ada
tujuh sentra yang disediakan agar anak bisa bermain gembira dan mendapatkan
banyak pilihan pekerjaan:
1. Sentra persiapan: (membangun kemampuan keaksaraan)
2. Sentra Balok (merangsang kemampuan konstruksi, prediksi, presisi,
akurasi, geometri, matematika)
3. Sentra seni (membangun kreatifitas, sensorimotor, kerjasama)
4. Sentra bahan alam (membangun sensorimotor, fisika sederhana, pemahaman
akan batasan dan sebab-akibat)
5. Sentra main peran besar
6. Sentra main peran kecil (membangun imajinasi, daya hidup, adaptasi,
kemandirian, kebahasaan, kepemimpinan)
7. Sentra Imtak (iman dan takwa)
Metode
sentra terbukti sangat efektif digunakan untuk membangun karakter dan
kecerdasan anak sejak bayi hingga SD kelas tiga. Itulah fase awal dalam
kehidupan anak manusia yang oleh para ahli pendidikan disebut dengan “usia
emas” Itulah suatu rangkaian waktu yang juga disebut sebagai jendela kesempatan
yang akan tertutup sesudah waktu itu berlalu. Itulah masa yang sangat
menentukan kualitas dan masa depan anak: sukses atau gagal, jadi ahli surga
atau neraka.
Buku ini lengkap berisi tentang
bagaimana penerapan metode sentra baik di rumah atau disekolah, mulai dari
tahap-tahap perkembangan anak yang berasal dari teori Piaget dan Erikson,
bagaimana membangun kecerdasan jamak anak, bagaimana membuat sentra,
menyediakan bahan-bahannya dan contoh penerapannya.
“Lepaskanlah
anak-anak panah itu dari busurmu, biarkan mereka melesat ke arah kiblat. Maka,
selesailah tugasmu. Tidak lebih, tidak kurang. Jika lebih mereka akan jadi
sumber fitnah atau berhala. Jika kurang, anak bisa jadi bencana, bagi keluarga
dan masyarakat. Maka, jangan ambil apa yang bukan bagianmu, yang sudah jadi
ketetapan Tuhan. Maka, jangan tinggalkan apa yang menjadi tugasmu; beranak
pinak, melanjutkan fitrah khalifah dan mensyukuri nikmat Allah.”
Judul: Pendidikan Karakter dengan
Metode Sentra
Penulis: Yudhistira & Siska Y.
Massardi
Penerbit: Media Pustaka Sentra,
2012
Hal: 354 halaman
(gambar diambil dari sini)
#ODOPfor99Days
#Day13
1/20/16
One Week One Book
Tahun
ini banyak sekali list buku yang
ingin dibaca, mulai dari novel, buku parenting, buku motivasi dan buku agama.
Sebenarnya pengen juga baca buku ulang yang sudah lama karena ada beberapa buku
yang layak untuk dibaca ulang, tapi nggak mau muluk-muluk dulu deh, selesain
dulu list buku yang baru dan belum
dibaca, itu juga belum tentu selesai dibaca dalam setahun. Belum lagi acara
yang ditunggu-tunggu, islamic bookfair
bakal segera hadir di bulan Februari. Semoga saya nggak kalap tahun ini hehe…
Namanya
juga emak-emak ada saja kendalanya mau baca, mulai dari nggak sempet karena
waktu yang kurang, ketiduran, masih banyak kerjaan lain yang numpuk, nemenin
anak main, terus kapan dong bacanya? Ini sih sebenarnya alasan sendiri yang
dibuat-buat aja, kalau kita disiplin menyisihkan waktu minimal 1 jam aja setiap
hari, Insya Allah itu buku kelar seminggu hehe... tapi karena berbagai macam
kegiatan nggak jelas yang malah lebih banyak durasinya dibanding produktifnya,
ujung-ujungnya satu buku bisa sampai seminggu lebih bahkan sebulan. Padahal di
tahun 2016 ini salah satu resolusi saya adalah one week one book, satu minggu satu buku plus resume. Ide ini
adalah gagasan iseng teman satu komunitas yang juga suka baca buku. Tapi
ternyata konsistensi pelaksanaannya merupakan hal yang masih jadi perjuangan
banget buat saya. Bulan Januari 2016 ini, saya masih berkutat dengan novel
Khadijah nya Sibel Eraslan.
Sejak
bulan November sudah tercatat 6 buku yang saya review di grup one week one book
tapii… itu semua novel karena tujuan saya ingin menamatkan semua novel-novel di
tahun 2015, untuk tahun 2016 mau mulai membaca buku-buku parenting lagi karena
selama tahun 2015 saya jarang banget baca buku agama, motivasi dan parenting. Di
tahun 2015, saya menimba ilmu dengan banyak ikut seminar dan mengumpulkan bahan
home education sehingga jarang banget
baca dalam bentuk buku, malah kebanyakan baca artikel di internet. Seringnya
juga nemenin anak baca buku karena anak saya sekali makan buku bisa 5 buku
dalam sehari bahkan lebih, tapi masih dibacain hehe…
Kemarin-kemarin
kan saya udah janji review seminar,
sekarang mau mulai review buku juga.
Walau nunggu waktu yang tepat, tapi niat saya untuk berbagi pasti ada hanya
saja waktu menyesuaikan hehe… Doakan saja mudah-mudahan saya sehat terus dan
anak-anak juga, karena dengan begitu saya jadi lebih mudah menulis jika kondisi
saya dan keluarga sehat jiwa dan raga.
Aamiin…!!!

(gambar diambil dari sini)
#ODOPfor99Days
#Day12
With or Without TV
Sudah setahun lebih kita
menjalankan “no TV at home. Emang nggak
berasa tau-tau kita udah menjalaninya cukup lama. Susah? Nggak juga. Malah
banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari situ. Bagi yang nggak terbiasa
mungkin akan merasakan, duh kayak orang dalam hutan aja nih nggak tau berita
apa-apa. Lah kan ada sumber informasi lain contohnya internet dan koran. Nggak
ada tv bukan berarti nggak ada internet, teknologi tetap kita pakai dalam
kehidupan sehari-hari, kalo nggak gimana saya dapat bahan home education buat anak-anak saya hehehe… Maksudnya no TV disini adalah program TV yang buat
kita pantengin TV terus sehingga bikin kita terlena males beranjak. Kalau
internet sih saya memang pake wifi di rumah, tapi anak-anak nggak bisa pakai
soalnya mereka nggak punya gadget dan
wifi pun berpassword. Jatah berlayar anak-anak pun hanya 30 menit (walau
sebenarnya idealnya umur 3-5 tahun jatah layarnya hanya 10 menit) dan itu pun
habis tidur siang dan mandi, kalau mereka nggak jalanin itu, ya nggak dapet
jatah nonton DVD atau main di tablet.
Hikmah yang bisa didapat dari nggak
nonton tv itu banyak banget loh. Mungkin bisa saya jabarkan dalam hal-hal
berikut ini:
1.
Lebih banyak waktu produktif yang bisa digunakan
misalnya baca buku, nulis blog kayak gini, browse
kegiatan-kegiatan anak atau nemenin anak-anak main. Sejak saya jarang nonton TV
terus terang saya jadi lebih bisa manage
waktu dengan baik karena waktu produktif yang bisa kita gunakan itu
kadang-kadang bisa hilang kalau kita awalnya iseng nonton tv, setelah itu
berganti acara baru yang juga seru, berita seleb yang nggak habis-habis dan
berita politik yang nggak tuntas. Melek informasi itu perlu, hanya bagaimana
kita mengatur waktu kita supaya nggak terlena dengan acara yang ditawarkan TV,
apalagi kalau yang kita tonton malah bikin kita dosa.
2.
Anak- anak sedikit sekali kemungkinan terpapar
hal-hal yang bisa bikin mereka ngikutin gaya yang tidak sesuai dengan usianya.
Sudah lumrah banget deh acara TV sangat memperlihatkan gaya hidup hedonis,
kata-kata tidak sopan atau bahkan gaya yang ngikutin tren luar negeri. Kebayang
kalau saya ingin anak-anak saya jadi anak sholehah, menjalankan perintah agama,
berkata baik tapi dia masih suka nonton TV yang acaranya kaya gitu, kira-kira
bakal kadi anak yang bagaimana dia nantinya?
3.
Hubungan dengan suami semakin hangat. Ya tentu
karena banyak sekali momen curhat kita berdua sekarang dan saling ngeluarin
unek-unek. Jadi, bisa ngeluarin sampah emosi tiap hari yang tentunya penting
bagi saya seorang istri yang bersama anak 24 jam setiap hari. Ini sangat
disarankan oleh psikolog. Emosi itu ibarat air yang mengalir, dia akan mencari
jalan atau celah sedikit pun yang apabila tidak ditampung akan membuat tekanan
yang besar dan akan bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Itulah
kenapa kita harus membuang sampah emosi kita ke tempat yang tepat.
4.
Bayaran listrik lebih hemat. Yah walaupun nggak
berkurang banyak banget tagihannya tapi tetep bikin pemakaian listrik
berkurang.
5.
Bisa mengatur waktu sendiri kapan saatnya ingin
nonton dan nggak penasaran dan galau gara-gara sinetron. Ya saya masih suka
nonton drama korea dan jepang. Dengan nggak nonton TV, saya nggak perlu galau
nungguin kelanjutannya, tinggal beli DVD nya yang sudah tamat, cari waktu yang
tepat (biasanya kalau saya setelah anak-anak tertidur) dan saya bisa manage waktu sendiri sehari nonton
berapa episode, nggak perlu nunggu iklan dan nggak perlu dengerin dubbing. Jadi, nggak perlu juga kayak
emak-emak nungguin sinetron yang tayang setiap jam sekian, terus bilang ke
anaknya, jangan ganggu mamah ya klo lagi nonton film X. Berhubung kita hanya
berempat serumah, jadi kalau saya nonton pas mereka melek ya pastinya mereka
terpapar layar dong, makanya saya hanya nonton DVD setelah mereka pules.
6.
Bikin tidur lebih nyenyak. Kadang acara TV
menghadirkan suguhan yang seru dan kita jadi lalai, nggak sadar tiba-tiba waktu
sudah menunjukkan tengah malam. Kadang TV memang jadi sarana hiburan bagi
keluarga yang merasa suntuk tinggal di kota. Kalau saya dan suami sih
hiburannya kita beli DVD judul film terbaru dan kita nonton berduaan di rumah,
sudah jelas durasi waktunya dan kita bisa pause
atau cepetin dan mundurin hehe..
7.
Tidak perlu TV berbayar karena sebenarnya
sama-sama bikin kita terlena juga. Channel TV berbayar yang jumlahnya ratusan,
gimana nggak bikin kita pindah tempat duduk? Apalagi kalau di negara aslinya
punya perbedaan waktu yang signifikan. Kalau mau tau update perkembangan berita terkini atau sekedar hiburan nonton
acara yang sudah tayang, tonton aja youtube dan surfing internet, pasti banyak banget. Tapi sekali lagi,
bijak-bijaklah menggunakan teknologi karena banyak iklan yang tidak pantas dan
juga tidak semua yang diberitakan tersebut juga benar. Jadi, bacalah minimal 20
berita yang mengabarkan hal yang sama sebelum percaya bahwa berita itu benar.
Bagi keluarga kami, manfaat yang
didapat lebih banyak apabila kami tidak menonton acara TV dalam dan luar
negeri. Dan sejak digital detoks ini
kami lakukan, walaupun hanya secuil dengan tidak menonton TV, saya merasa
kehangatan keluarga semakin bertambah, walaupun tadinya nggak dingin juga hehe…
Ingat tujuan pengasuhan kita apa, tentukan masing-masing tujuan keluarga kita.
Jangan hanya karena ikut-ikutan dan terus akhirnya kehilangan motivasi diri
tentang apa yang ingin dicapai. Masing-masing keluarga memiliki prinsip yang
berbeda dan jangan hanya mengikuti tren yang berlaku, itu sama saja mengasuh
anak tanpa adanya ilmu karena yang akan terjadi adalah kita gampang goyah
dengan godaan di sekeliling kita. Yuk,
mulai berubah ke arah yang lebih baik! Jika yakin bisa, Insya Allah akan ada
jalan menuju kesana.
#ODOPfor99Days
#Day11
1/15/16
Ketika Semua Tertidur dan Terbangun
(gambar diambil dari sini)
Ketika semua tertidur, mungkin
bunda bisa beristirahat sejenak
Ketika semua tertidur, mungkin
inilah waktu yang tepat untuk bunda berbenah
Ketika semua tertidur, mungkin
bunda bisa menuliskan apa yang tertuang dalam fikiran
Ketika semua tertidur, mungkin
bunda bisa menyiapkan baha-bahan yang akan dimainkan esok hari
Ketika semua tertidur, mungkin
bunda bisa memasak walaupun kadang sore sudah habis
Ketika semua tertidur, mungkin
bunda bisa merenungkan sejenak makna hidup dalam sujud dan tilawahku
Tapi ketahuilah…
Ketika semua terbangun, bunda
merasakan kebahagiaan tawa dan teriakan
Ketika semua terbangun, bunda bisa
membuat mainan yang lucu bersama kalian
Ketika semua terbangun, bunda bisa
membacakan buku-buku seru untuk kalian
Ketika semua bangun, dimulailah
hari untuk menjadi lebih baik dan lebih sabar
Ketika arus hidup berputar antara
hidup dan mati sesaat, yakinlah semua telah diatur, teruslah berikhtiar dan
berdoa
Bersyukurlah karena belum tentu
esok hari, akan bertemu kembali
#ODOPfor99Days
#Day9



















